Saturday, January 02, 2010

"Gitu Aja Kok Repot"-nya Gus Dur

Sabtu, 2 Januari 2010 | 04:45 WIB

Abdul Munir Mulkhan

Pernyataan yang sering dipakai Gus Dur untuk mengomentari persoalan, sikap seseorang, atau lembaga, ”Gitu aja kok repot”, mengesankan sikap permisif. Mungkin itu pula komentarnya terhadap ribuan pelayat dan penziarah yang ingin mendekap makamnya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, orang seperti Gus Dur tentu mulus melewati berbagai sensor malaikat di alam kubur. Boleh jadi seloroh penuh makna itu merupakan kunci suksesnya juga di alam pascaduniawi ini.

Menjelang malam tiba saat matahari melangkah ke pintu peraduannya hari Rabu, 30 Desember 2009, Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 RI, berpulang ke haribaan Allah, meninggalkan kita semua dalam labirin kehidupan tanpa ujung. Namun, seloroh dan canda guraunya yang selalu membuat pendengarnya tertawa lepas tercerahkan sehingga tak pernah lupa lelucon segarnya, bukan hanya karena lucu, tetapi juga karena penuh makna, akan selalu menyertai kita pada hari- hari menyusuri lorong tersebut. Tampak samar, tetapi jelas secercah cahaya di ujung labirin yang disulut Gus Dur itu bagaikan Sang Guru di depan ruang kelas yang sedang mengajar tentang kemanusiaan dan kebangsaan.

Begitulah, kenyelenehan Gus Dur sering melahirkan beragam tafsir yang keliru atau sama-sama benar ketika kata dan kalimat yang beliau pakai menerobos pemaknaan konvensional. Orang sering itu sebut sebagai perilaku ”wali” yang nyulayani adat (unik) atau tampilan manusia bukan hanya di maqam (tahapan sufi) tertinggi, tetapi juga melampaui maqomat.

Gus Dur dengan penuh percaya diri mengaku sebagai memiliki darah China, Dayak, Pasundan, Batak, darah segala suku dan etnis yang terasa aneh dan tidak masuk akal bagi banyak orang. Namun, itulah cara Gus Dur berempati dengan segala ragam budaya dan etnisitas, juga religiusitas. Tokoh puncak NU ini dengan enteng menyatakan kekagumannya kepada tradisi organisasi Muhammadiyah, akan mengembangkan tradisi itu saat berhadapan dengan aktivis gerakan ini tanpa kehilangan ke-NU-annya.

Syekh Siti Jenar

Wafatnya Gus Dur menyentak kita semua meski sudah cukup lama beliau sakit. Suasana itu membawa penulis menerawang ke masa pertama bertemu di sebuah hotel di kawasan Jalan Taman Siswa, Yogyakarta, sebelum Gus Dur menjabat Ketua PB NU. Kenangan ini menuntun penulis ke masa-masa bercanda di sekeliling meja kerja Gus Dur di kantor PB NU bersama Ahmad Dhani, Holland Taylor (CEO LibForAll), dan beberapa wartawan.

Cengkerama sesaat setelah LibForAll Foundation memberi penghargaan kepada si Raja Dewa, Ahmad Dhani, tiba-tiba disela pernyataan seorang teman, ”Gus, inilah orang yang memopulerkan kembali Syekh Siti Jenar!” sambil menunjuk dan menyebut nama penulis. Gus Dur berkata, ”Mas Mulkhan!” begitu Gus Dur memanggilku, ”dari garis ayah, saya ini keturunan Syekh Siti Jenar lho!” Saya pun segera menimpali, ”Wau, kalau begitu Gus Dur sesat!” setengah menghardik walaupun jujur saya sedikit khawatir menunggu reaksinya. ”Biar saja, gitu aja kok repot,” kata Gus Dur seperti tak peduli yang membuat kami semua tertawa lepas. Inilah keunikan sikap Gus Dur yang sulit dicari padanannya di negeri ini.

Beberapa tahun kemudian, penulis bertemu kembali dengan Gus Dur dalam seminar tentang Pancasila di Universitas Parahyangan, Bandung. Tiba gilirannya, Gus Dur menjelaskan bahwa dirinya adalah keturunan raja-raja Pasundan. Ketika seorang ahli sejarah Pasundan meragukan dan meminta informasi tentang referensi kebenaran pernyataan Gus Dur tersebut, dengan enteng Gus Dur menjawab bahwa sumbernya ialah Ki Juru Kunci. Mendengar penjelasan tersebut, peserta seminar pun tertawa lepas. Lebih lanjut, Gus Dur menjelaskan bahwa dirinya merupakan keturunan Kiai Kasan Besari dari Tegalsasi Ponorogo, guru sang pujangga Ronggowarsito.

Tak mau kalah dengan Gus Dur, penulis segera berkata, ”Jelek-jelek Gus, saya ini adalah cucu buyut Kiai Kasan Besari.” Mendengar itu, Gus Dur hanya berdehem kecil. Penulis melanjutkan, ”Jika Gus Dur bertanya apa buktinya, buktinya adalah Ki Juru Kunci.” Spontan Gus Dur berkata, ”Wah, yen ngono awake dewe iki sih sedulur, sih sedulur! (Wah, kalau begitu kita ini masih saudara/ keluarga!).”

Beberapa minggu kemudian muncul tulisan Gus Dur di sebuah harian ibu kota tentang Islam kebangsaan dan kemanusiaan. Dari Kiai Kasan Besari itu, urai Gus Dur dalam artikel itu, lahir generasi Islam kebangsaan dan kemanusiaan melalui dua alur, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dari alur NU lahir beberapa ulama besar yang menurunkan tokoh seperti Gus Dur sendiri. Sementara dari alur Muhammadiyah, menurut Gus Dur, menurunkan elite gerakan seperti Kahar Muzakkir, Syafii Ma’arif, dan penulis sendiri. Begitulah gaya Gus Dur menjelaskan nilai-nilai Pancasila dan Islam yang rumit menjadi sebuah kisah yang yang mudah dicerna, diingat, dan dipahami oleh semua kalangan.

Nasionalisme Islam yang humanis, toleran, dan pluralis, menurut Gus Dur, bisa dilacak dari kisah sejarah dan legenda tentang Kiai Kasan Besari tersebut. Itulah barangkali salah satu warisan paling berharga Gus Dur yang perlu dicermati dan dikembangkan.

”Selamat jalan, Gus!” Semoga kelak kita dipertemukan dalam perjamuan Tuhan di kampung surgawi. ”Gitu aja kok repot!”

Abdul Munir Mulkhan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Mantan Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah; Anggota Komnas HAM

Warisan Gus Dur

Sabtu, 2 Januari 2010 | 04:46 WIB

Jaya Suprana

Gus Dur telah tiada. Terlalu banyak kenangan dan pelajaran yang saya peroleh dari sahabat dan mahaguru yang sangat saya hormati, kagumi, dan cintai itu. Dari Gus Dur, saya mewarisi wawasan kearifan mengenai makna kenegaraan, keagamaan, dan kemanusiaan dalam hakikat yang murni dan sejati.

Saya terkenang bagaimana ketika menempuh perawatan hemodialisis akibat telah mencapai tahap gagal ginjal terminal, Gus Dur tampak selalu segar bugar, ceria, dan tetap bersemangat berkisah dirinya sempat resmi dituntut sebuah ormas untuk diadili dengan tuduhan menghina agama Islam lewat pernyataan bahwa Al Quran adalah kitab suci pornografis. Ketika saya menganggap tuduhan itu tidak benar, Gus Dur malah dalam gaya biarnisme nakal membantah: ”Biar saja, biar rame!”

Socrates

Gus Dur selalu mengingatkan saya kepada filsuf Yunani—tepatnya Athena— tersohor, Socrates, yang—menurut Plato— gemar melontarkan komentar-komentar humoristis yang sering keliru ditafsirkan sejumlah pihak tidak mau dan/atau tidak mampu memahami kandungan makna yang sebenarnya amat luhur.

Kini telah disepakati bahwa Socrates salah seorang filsuf terbesar yang pernah hidup di Planet Bumi ini dengan pengaruh signifikan terhadap pemikiran peradaban dan kebudayaan Barat. Namun, pada masa hidupnya menjelang akhir abad III sebelum Masehi, Socrates dicurigai, dicemooh, dikecam, dan dihina sebagai insan eksentrik suka bicara ngawur. Bahkan, akibat lontaran komentar yang keliru ditafsirkan, Socrates dituduh menghina agama dan lembaga penguasa hingga akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh dewan juri pengadilan kota Athena pada tahun 399 sebelum Masehi.

Sementara itu, di Indonesia, pada tahun 2001 setelah Masehi, akibat berbagai sikap, perilaku, dan komentar yang keliru ditafsirkan, Gus Dur memang tidak dihukum mati, tetapi dipaksa lengser dari jabatan Presiden oleh MPR dan DPR yang pada masa itu masih memiliki kekuasaan untuk dengan sangat mudah melengserkan presiden.

Semasa hidup, Socrates dibenci kaum penguasa kota Athena sebab terlalu lantang dan terlalu terbuka melempar kritik terhadap sikap dan perilaku demokrasi semu pemerintah Athena. Demikian pula pada masa rezim Orde Baru, Gus Dur juga dibenci mereka yang sedang berkuasa akibat ketua ormas Islam terbesar di dunia ini berani mengkritik kediktatoran penguasa Republik Indonesia. Begitu benci rezim Orba terhadap Gus Dur, sampai konon muncul instruksi rahasia untuk—sama dengan Socrates—membunuh Gus Dur, tetapi—beda dari Socrates—sebelum niat itu terlaksana, rezim Orba telanjur lengser.

Akibat aneka ragam komentar kontroversial, Socrates dibenci dewan perwakilan warga Athena. Sama halnya dengan Gus Dur jahil menyamakan para anggota DPR dengan murid TK sebagai penyulut sumbu kebencian DPR terhadap Presiden!

Plato

Di dalam apologi tersirat kekaguman Plato terhadap Socrates sebagai tokoh yang berani menyatakan yang benar sebagai benar, yang keliru sebagai keliru, dan berani mengambil langkah-langkah kontroversial demi mempersembahkan yang terbaik bagi rakyat Athena. Sama halnya dengan para tokoh cendekiawan dan budayawan nasional dan internasional yang kagum terhadap sosok Gus Dur yang selalu gigih maju tak gentar menerjang kemelut deru campur debu bepercik keringat, air mata, dan darah demi menegakkan kebenaran di bumi Indonesia.

Pada masa Orba, Gus Dur paling berani secara terbuka memprotes kezaliman pemerintah. Hanya Gus Dur yang berani secara terbuka membela Arswendo Atmowiloto ketika menjadi korban ketidakadilan. Hanya Gus Dur yang berani membela kaum minoritas tertindas di Indonesia masa Orba kemudian setelah menjadi Presiden nyata memperjuangkan hak-hak kaum minoritas!

Hanya Gus Dur yang sadar bahwa urusan sosial dan pers sebenarnya bukan urusan pemerintah tetapi masyarakat sendiri, maka membubarkan Departemen Sosial dan Departemen Penerangan. Namun— sama dengan nasib Socrates—perjuangan Gus Dur membela kemanusiaan dan menegakkan kebenaran di persada Nusantara sering tidak atau sulit dipahami masyarakat semasa hingga sering keliru ditafsirkan sebagai ulah negatif bahkan destruktif. Cuap-cuap Socrates menjengkelkan kaum penguasa kota Athena, sementara ceplas-ceplos Gus Dur ketika menjadi Presiden sangat ditakuti pimpinan Bank Indonesia sebab dianggap rawan mengguncang stabilitas moneter dan ekonomi nasional!

Sama dengan Socrates, Gus Dur semasa menjadi Presiden dituduh eksentrik, ngawur, bahkan membahayakan negara dan bangsa hingga akhirnya—meski tidak dibunuh seperti Socrates—dilengserkan dari jabatan kepala negara! Gus Dur layak masuk MURI sebagai orang yang paling sering dikelirutafsirkan, terbukti namanya saja sering disebut ”Pak Gus Dur” akibat keliru tafsir bahwa ”Gus Dur” sebuah nama, padahal istilah ”Gus” sebenarnya sebutan dialek Jawa Timur berbobot sudah sama terhormat dengan ”Pak”.

Warisan pesan

Dalam salah satu perjumpaan terakhir dengan sahabat dan mahaguru yang sangat saya hormati, kagumi, dan cintai, saya sempat bertanya mengenai apa sebenarnya yang keliru pada bangsa dan negara Indonesia pada masa kini. Gus Dur menghela napas sejenak lalu berkisah sebuah hadis Al Sukuni meriwayatkan dari Abu Abdillah Al Shadiq, ”Ketika Nabi Muhammad SAW menyambut pasukan sariyyah kembali setelah memenangkan peperangan, Beliau bersabda: ’Selamat datang wahai orang-orang yang telah melaksanakan jihad kecil tetapi masih harus melaksanakan jihad akbar!’ Ketika orang-orang terheran-heran lalu bertanya tentang makna sabda itu, Rasul SAW menjawab: ’Jihad kecil adalah perjuangan menaklukkan musuh. Jihad akbar adalah jihad Al-Nafs, perjuangan menaklukkan diri sendiri!”

Terima kasih dan selamat jalan, Gus Dur!

Selamat berjuang, bangsa Indonesia!

Jaya Suprana Sahabat dan Murid Gus Dur

Wednesday, March 04, 2009

Mlaku-Mlaku Olah Raga

The Beauty Of Live Doesn'tDepind On How Happy Yau are, But How Happy Others Because Of You.

Esuk-esuk bar jalan-jalan olah raga nang kompleks perumahan Tanjung Mas Raya, kompleks perumahane wong sing sugih-sugih, nang ndalan disodori brosur Mobil Toyota sekang Show Room Mobil Toyota sing nembe bae bukak nang Jl.Tanjung Barat Raya, Jakarta Selatan.

Lha sing menarik dudu gambar mobil-mobile utawa carane tuku mobil apa cash, kredir, apa tukar tambah, ning nang brosuré kuwe ana tempelane selembar kertas sing isine kaya kiye:

"Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang duda dengan 3 orang anak yang sudah menginjak dewasa. Dudua itu terbilang cukup kaya di desanya. Ia memiliki rumah, tanah, dan 19 ekor sapi. Suatu saat duda itu mengalami sakit keras, bahkan tipis harapan untuk sembuh. Merasa ajalnya sudah dekat, sang duda memanggil ke-3 anaknya untuk diberi wasiat berupa pembagian harta warisan terutama ke-19 sapinya.

Kepada anak sulung, sang ayah berpesan dia akan memperoleh 1/2 dari jumlah sapinya. Sedangkan anak yang kedua akan memperoleh 1/4 dari jumlah sapi, dan anak bungsu akan memperoleh 1/5 dari jumlah sapi yang duda itu miliki.Tak lama kemudian, duda itu pun meninggal dunia.

Setelah Bapaknya dimakamkan dan situasi mulai tenang, ketiga ahli waris itu pun mengadakan rapat guna membagi 19 ekor sapi peninggalan ayahnya tersebut. Ke-19 sapi tersebut dibagikan sesuai dengan amanat almarhum ayahnya., yakni 1/2 untuk anak sulung, 1/4 untuk anak ke-2, dan 1/5 untuk si bungsu. Akan tetapi mereka barub sadar bahwa hasil pembagian ternyata tidak utuh. Dari hasil pembagian tersebut, anak sulung menerima 9 1/2 sapi, anak kedua menerima 4 3/4, dan si bungsu menerima 3,8 sapi.

Mereka menjadi bingung. Tidak tahu bagaimana cara membagi sapi-sapi itu. dalam kebingungan itulah, ego mereka masing-masing muncul. Semua menginginkan sapi diterima utuh tanpa ada yang dipotong-potong. si sulung menuntut lebih, mengingat dia adalah pewaris utama, sementara adik-adiknya yang lain pun tentu tidak mau mengalah.

Tidak jauh dari rumah mereka sebenarnya tinggal paman mereka yang tergolong miskin. Tidak mempunyai banyak tanah dan hanya memiliki seekor sapi warisan dari ayahnya dulu. Itu pun sudah sangat kurus dan tidak terawat.

Akibat kehidupannya yang miskin itulah, sang paman hampir tidak pernah diperhatikan oleh keluarga almarhum duda kaya itu, apalagi perhatiandari ketiga keponakannya. Namun demikian, berita mengenai pertentangan ketiga keponakannya dalam membagi 19 sapi tersebut sampai juga ke telinganya.

Setelah mengetahui titik permasalahannya, dengan hati yang tulus dia berkata kepada ketiga keponakannya itu, "Ambillah sapi paman yang satu-satunya ini, mungkin berguna untuk memecahkan masalah kalian bertiga!"

"Wah ide yang bagus.Kalau begitu sekalian saja paman yang membaginya untuk kami, supaya adil!" sahut si sulung dengan mantap.

Dengan senang hati, sang paman pun bersedia untk membantu membagi sapi warisan itu. Ditambah satu sapi miliknya,jumlah sapi sekarang menjadi 20 ekor. Sesuai dengan porsi pembagian yang telah diwasiatkan sang ayah, maka si sulung memperoleh 10 ekor sapi (1/2 dari 20), adiknya yang nomor dua mendapatkan 5 ekor (1/4 dari 20), dan si bungsu memperoleh 4 ekor (1/5 dari 20).

"Apakah kalian puas dan merasa adil dengan apa yang kalian terima?" tanya sang paman. "Sangat puas paman!" sahut ketiga keponakannya.
"Sesuai wasiat ayah kalian, sekarang masing-masing sudah mendapat 10,5, dan 4 ekor sapi. Jadi total jumlah sapi yang dibagi ada 19 ekor, sedangkan sapi yang ada adalah 20 ekor. Berarti ada sisa satu lagi. Nah, yang satu ekor ini paman bawa pulang lagi ya!" pinta paman mereka dengan tersenyum. (Pamane kaya Abunawas apa ya?)

Sekedar kisah untuk panduan pemilu 2009. Kriteria pemimpin kurang lebih seperti karakter "paman" pada cerita di atas, antara lain solutif dan rela berkorban. Menurut Anda? Sing liane anu iklan,,,,ora tek tulis nang kene.

Inyong mung lagi bingung campur mengen. Wektu sapiné 19, dibagi ora dadi, pating prenthil. Ning baring sapiné 20 koh dadi pas. jaaan,,,uwis kaya kuwe, sapi sing dibagi warisan ya kur 19,,,,,Kepriwe kuwe jajal?

Tuesday, January 27, 2009

Wani Ngalah Luhur Wekasané?

Jaman gemiyen, wong tuwa-tuwa cokan rengeng-rengeng (nembang Jawa), oniné kaya kiyé:
Dedalané guno lawan yekti,Kudu andap asor,Wani ngalah luhur wekasané,Tumungkulo yén dipun dukani,Bapang dén simpangi,Ana catur mungkur.

Laguné kepénak dirungokna. Apamaning goli rengeng-rengeng wektuné sore, suasané udan ngrecéh. Goli rengeng-rengeng karo ngemban putuné. Agi inyong esih cilik tah ora patia nggatekna isi utawa makna tembang mau kejaba suarané wong tuwa mau sing pancen kepenak derungokna.

Ning bareng Inyong maju gedhé, sok mikir, kayané ana sing kurang pas goli maknani tembang mau. Ora jumbuh utawa ora pas karo kersané sing nganggit.
Inyong pribadi nganggep, nek "lirik" tembang mau "bernuansa" Islami. Ning jalaran ana sing penafsirané ora nganggo cara Islam, mulané kasilé cokan "kontradiksi" karo cita-cita Islam rahmatan lil 'alamin.Magé jajal mayuh ditafsirna unggal baris. Inyong nafsir nganggo ngelmuku sing mung saipet, panjenengan pada mbok kagungan pinemu sing liya, sing lewis maen lan pas, nggih mangga pada urun rembug.

Jajal mayuh dipirsani:

Dedalané guna lawan yekti, ngemu teges : dadi wong angger kepéngin mupangati kanggo wong akéh lan kajén.Kudu (gelem) andap asor.Andap asor kuwe angger diteropong nganggo kacamata Islam ya kurang lewiéh tawadhu. Kenangapa tawadhu? Wong sing tawadhu kuwe ngrasa esih akeh kekurangané, mulané kanggo nggenepi kekurangané mau, banjur gelem utawa sregep ngangsu kawruh. Angger wong sing pinter, lewih seneng mbagi kawruhe maring wong sing "mara/mjaluk" kanthi andap asor. Angger wong sing angkuh, sombong, utawa takabur biasané kurang disenengi. Apa maning mbagi ilmuné, kenal bae madan bebeh.

Wani ngalah luhur wekasane

Lha baris sing siji kiyé sing cokan salah penafsiran. Dadi pengamalané ora cocog karo kersané sing nganggit tembang kiyé. Biasané ditafsirna kaya kiye: nek gelem ngalah (ora nglawan) ujaré dadi luhur wekasané. Apa iya? jajal mayuh nggolet berita nang koran. Ana kabar transmigran (jawa) sing mataun-taun ngolah tanah, asalé tanah cengkar/tandus wis dadi subur, siki kudu ngalah ninggalna tanah garapané jalaran diklaim nang penduduk asli lan dianggep tanah nenek moyangé. wong-wong mau pada njaluk lahan sekang petani transmigran. Wong jawa ngalah. terus nggelandang maring endi baé nggolet rejeki.

Lha sekang conto mau nyata nek wani ngalah, ora kuhur wekasané. Jalaran kuwe tafsiran sing luput utawa keliru. Banjur tafsir sing bener sing kaya ngapa? Tumrapé Inyong sing demaksud wani ngalah nang konteks kiye kuwe ditafsir "Wani Ing Allah. Mengko disit, aja giri-giri takon, lho deneng si wani ing Allah. Wani nang kene kuwe mangsude dudu ateges nglawan Gusti Allah, utawa ingkar, nanging wani mérek maring Allah. Taqarub. Wong nek uripé taqarub maring Allah, mesthi luhur alias ora nistha.

Tumungkulo yen dipun dukani.

Kawit jaman Inyong cilik nganti semene gedhene, nduwe penganggep, sapa sing ndukani mesthi ngemu pitutur kanggo sing didukani. Apa sebabe? Jalaran sing ndukani ngersakaken, sing didukani kelakuané lewih becik, apik, saenggo ora gawe keluputan anyar utawa mbaleni keluputan sing uwis-uwis. Tembang mau ngongkon Inyong lan panjenengan kabeh tumungkul mirengaken lan migatekaken.

Bapang dén simpangi.

Tegesé, sekabehe sing bakal ndadekna rubeda utawa konflik kudu diindari. Aja ngorobi utawa ngompori. Sebisa-bisa nggolet persamaané aja digolet perbedaané. Simpangi, ora ngemu teges pengecut, ning usaha kanggo nggolet paseduluran, dudu permusuhan.
Ana Catur Mungkur
Catur nang kene bisa mengku teges "pengendikan sing ora produktif". Ora produktif sing dimaksud kuwe bisa awujud isyu, gosip, ghibah,utawané fitnah. Umumé catur nuansane provokatif. Mulane kudu mungkur. Mungkur dudu asal mungkur, ning kudu dimaknai Tabayun utawa klarifikasi.

Mulane karo tafsir mau moga-moga Inyong lan panjenengan kabeh ora nganti keblangsak jalaran kalahan, ning sebalike mupangati tumrap wong akeh jalaran tawadhu, taqarub, seneng mirengaken pitutur sing becik, ngadohi sekabehing konflik utawa plekara sing bisa ndadekna konflik, ora doyan isyu, gosip, ghibah, apa maning fitnah.
Ewo semono, nek aturku kiye kurang bener ya nyuwun pangapurané panjenengan kabéh.

Friday, January 02, 2009

Beberapa Kegiatan Yang Terlewatkan

Ada beberapa kegiatan yang luput ditulis di blog ini, yaitu kegiatan Diklat Sertifikasi Guru di SLB Pembina Lebak Bulus, Jakarta Selatan pada tanggal 13 sd 20 Desember 2008, kemudian tour dan menginap di Puncak bersama teman-teman pada malam Natal tanggal 24 Desember2008, serta pulang kampung ke Purwokerto pada tanggal 25 sd 29 Desember 2008.

Diklat Sertifikasi Guru merupakan syarat pelengkap bagi guru yang tidak lulus portofolio. Tapi kelihatannya mereka yang bisa lulus portofolio memang jarang sekali. Kebanyakan ya ikut diklat. Sebenarnya pemerintah menyediakan uang makan dan transport yang cukup untuk seminggu ikut diklat, yaitu Rp.1.125.000,- Tapi uang itu tidak diterimakan kepada peserta diklat dan diganti dengan fasilitas menginap dan makan. Banyak juga ilmu yang didapat dari seminggu belajar dan nginep, juga tentu saja dapat menambah teman. Kebetulan aku bawa kamera digital dan temanku ada yang bawa laptop sehingga dapat membuat buku kenangan sederhana berisi foto dan alamat masing-masing peserta.

Belum lama tinggal di rumah, sudah harus ikut kegiatan bersama teman2 dari Sekolah untuk acara berlibur di Puncak. Ya lumayan ramai dan terhibur karena malam harinya digunakan untuk nyanyi-nyanyi, terutama nyanyi lagu-lagu Soneta kesenanganku.

Dari Puncak tidak langsung pulang ke Jakarta, tapi jalan-jalan dulu ke Bandung Kota cari oleh2. Jadilah aku beli oleh-oleh sekedarnya dari Toko Kartika Sari di Bandung.

Pulang dari Puncak, paginya langsung berangkat ke Purwokerto naik kereta Sawunggalih. Berangkat dari Stasiun Senen pukul 08.15 dan nyampai di Satasiun Purwokerto sekitar jam 15.00 Wib. Penumpang cukup padat. Aku sama istri yang biasanya naik kereta Purwojaya kali ini terpaksa naik Sawunggalih karena tidak tahu informasi kalau kereta Purwojaya sekarang berangkatnya dari Gambir lagi dan jadwal keberangkatannya dipercepat menjadi jam 05.40 yang sebelumnya jam 06.40.

Kegiatan di Purwoketo seperti biasanya di Runah Uti di Kutasari, jalan-jalan ke Moro, ketemu Mas Gino dan Indri, Unggul, dan sempat juga nengok Fatih anaknya Indri di rumah mertuanya di kompleks dosen Unsoed.

Balik ke Jakarta menggunakan travel Tri Kusuma, disebabkan tiket keeta Purwojaya sudah habis. Ya untung masih ada tempat duduk. Tinggal 2 di samping sopir. Wah, aku sama istri sampai nggak bisa tidur karena ngeri, sopirnya maunya ngebut terus,,,,,lain kali kalau naik travel milih di belakang atau di tengah aja. Itu juga kalau masih bisa milih. Kalau nggak ya terpaksa lah.

Akhirnya sampai juga di Jakarta Hari Senin, 29 Desember 2008 jam 07.30. Ya untung hari libur, sehingga aku nggak harus telat berangkat kerja. Aku kebagian diantar terakhir. Kami harus ikut nganterin dulu penumpang yang lainnya ke Rempoa dan Kalibata.

Saturday, November 29, 2008

Nonton Bareng "Laskar Pelangi"

Sebenarnya yang menarik bukan filmnya, tapi kali ini adalah tempatnya. Ya nonton bareng kali ini, yang diikuti oleh sebagian guru dan karyawan Medco Foundation beserta dengan keluarganya, disewakan sebuah studio film yang cukup bergengsi yaitu Blitz Megaplex. Sebuah gedung film yang berada di lantai 8 Grand Indonesia di jantung kota Jakarta, tepatnya di bekas bangunan Hotel Indonesia.

Pada kesempatan tersebut hadir pembina Medco Foundation Ibu Yani Yuhani Rodyat Panigoro yang juga komisaris Medco Groups.


Acara nonton bareng kali ini memang beda karena tidak dilakukan bersama-sama dengan penonton lainnya, tetapi menyewa salah satu studio megaplex. Sehingga pada hari Sabtu, 29 November 2008 tersebut, nonton bareng dilaksanakan pada pukul 09.30 sd 11.00 Wib.


Kalau saya sendiri sebetulnya sudah nonton film Laskar Pelangi ini dua kali. Yang pertama di Atrium 21 Senen, terus di 21 Cilandak Town Square (CITOS). Yang terakhir ini juga merupakan acara nonton bersama dengan teman-teman sekolah Avicenna.


Tapi anak dan istri belum sempat nontong, jadinya ya klop banget. Acara nonton bareng Medco Foundation rasanya menjadi acara yang pas. Moga-moga aja acara seperti ini akan terus dilakukan. Dalam rangka menambah wawasan, juga mengakrabkan diantara sesama guru dan karyawan.