| Republik Petruk | for everyone |
Di sini aku posting berbagai macam acara yang aku ikuti dari waktu ke waktu. Ada acara pribadi, kerjaan, atau acara organisasi.
Friday, August 24, 2012
Republik Petruk
Friday, April 06, 2012
Rapat Pleno (Musyawarah Besar) KKB Jabodetabek
Saturday, March 17, 2012
Daftar Kelompok Banyumasan yang tergabung dalam KKB Jabodetabek
Saturday, March 03, 2012
Kerukunan Keluarga Banyumasan (KKB) Jabodetabek
Friday, October 14, 2011
Alamat Palsu
Para pengambil kebijakan pendidikan di negeri ini tampaknya harus belajar dari Ayu Ting Ting. Jangan sampai alamat yang mereka pegang untuk mengarahkan "ke mana" pendidikan nasional ternyata palsu.
Banyaknya kebijakan pendidikan yang dipilih semakin menunjukkan bahwa alamat yang mereka pegang benar-benar palsu. Kebijakan pendidikan itu salah arah dan tak sampai pada apa yang sebenarnya ingin dituju.
Pengambil kebijakan pendidikan tampaknya semakin kalap dengan mengeluarkan berbagai kebijakan yang kontroversial : baik terkait dengan Ujian Nasional maupun dengan pengembangan profesi guru. Yang terakhir, kebijakan menambah jam mengajar guru dari minimal 24 jam per minggu menjadi 27,5 jam per minggu mendadak sontak menimbulkan protes para guru.
Dibatalkannya UU Badan Hukum Pendidikan oleh Mahkamah Konstitusi dan dimenangkannya tuntutan para penyelenggara pendidikan swasta atas kata dapat menjadi wajib yang mendiskriminasi sekolah swasta jelas menunjukkan bahwa kalangan legislatif tak memahami dinamika yang terjadi dalam dunia pendidikan. Anggota yang legislatif yang membuat undang-undang tentang pendidikan tak punya kompetensi memadai sehingga produk hukum yang dibuat dibatalkan Mahkamah Konstitusi.
Jika diteruskan dan dijadikan dasar sebagai cara bertindak dalam pengaturan kebijakan pendidikan nasional di tingkat yang lebih rendah, cacat hukum di tingkat undang-undang akan melahirkan kebijakan yang distorsif, tak adil, dan malah meremehkan keberadaan dunia pendidikan dan eksistensi pendidik sendiri.
Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional, peran guru sebagai evaluator bagi kinerja siswa telah dikebiri dalam kebijakan ujian nasional yang memandulkan kinerja guru. Diskriminasi atas peran sekolah swasta juga terjadi. Negara lebih memperhatikan sekolah negeri ketimbang sekolah swasta dalam pembiayaan pendidikan. Demikian juga dalam penentuan kuota sertifikasi guru. Ada ketakadilan dalam penentuan kuota sertifikasi antara guru negeri dan swasta.
Sekarang persoalan jam mengajar guru, yang sebenarnya sudah tak adil, justru diperberat lagi dengan adanya peraturan minimal menjadi 27,5 jam tatap muka per minggu. Jam mengajar guru minimal 24 jam ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahun 2009.
Banyak guru yang tak dapat memenuhi minimal mengajar 24 jam per minggu. Ini terjadi karena perbedaan alokasi jam mengajar antarmata pelajaran. Jumlah jam yang tersedia selama satu nminggu tak akan mungkin dipenuhi oleh guru yang mengampu mata pelajaran dengan alokasi kecil, seperti Olahraga, Geografi, dan Agama. Alokasi 24 jam tatap muka per minggu bisa dipenuhi apabila sekolah memiliki lebih banyak kelas paralel.
Ketidakadilan
Aturan minimal 24 jam tatap muka per minggu saja sudah merupakan kebijakan yang tak adil. Kaetakadilan pertama terjadi karena pekerjaan guru hanya dinilai dari yang ia ajarkan di depan kelas. Kegiatan lain yang dilakukan guru di luar jam mengajar di kelas---seperti memberi remedial teaching, koreksi, membuat soal, mendesain program pembelajaran---tidak dihitung sebagai pekerjaan guru.
Apalagi sekarang malah mau ditambah menjadi 27,5 jam per minggu. Kebijakan ini tidak hanya menegaskan kebutaan para pengambil kebijakan pendidikan, tetapi semakin mengukuhkan keyakinan bahwa mereka sesungguhnya tak peduli terhadap pengembangan kualitas pendidikan nasional. Orang-orang seperti itu tidak layak menduduki posisi pemimpin yang menentukan maju mundurnya sebuah bangsa.
Kedua, sangat tidak adil dan melukai hati para guru dan pendidik ketika pekerjaan mereka selama sebulan hanya dihitung dan dibayar berdasarkan jam yang mereka lakukan selama seminggu. Jadi, gambaran kasarnya begini. Guru bekerja selama satu bulan, tetapi gaji yang mereka terima hanyalah untuk seminggu bekerja. Para pengambil kebijakan mestinya segera sadar bahwa kebijakan yang mereka buat tersebut sangat melukai, tidakk adil, serta tidak menghargai profesi guru.
Kalau mau bersikap adil, mestinya jam mengajar guru itu dihitung secara penuh selama satu bulan. Jadi gaji guru tidak hanya dihitung berdasarkan jam mengajar selama seminggu. Apabila guru mengajar tatap muka selama 24 jam per minggu, itu berarti selama satu bulan dia melakukan 96 jam tatap muka. Dari 96 jam mengajar yang dilakukan selama satu bulan penuh, hanya 24 jam yang dihargai. Bagaimana dengan jumlah tatap muka guru tersisa yang 72 jam? apakah ada penghargaan pemerintah terhadap sisa jam mengajar yang 72 jam tersebut?
Mestinya pemerintah segera menyadari bahwa kebijakan jam mengajar guru yang telah ditetapkan itu sangat tidak manusiawi, tidak adil, dan melecehkan pekerjaan guru. Berbagai macam kebijakan pendidikan, yang kemudian dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi menunjukkan bahwa anggota legislatif membuat undang-undang tanpa didasari niat baik dalam mengembangkan dunia pendidikan.
Aturan dibuat asal-asalan, diskriminatif, dan tidak adil. Itu justru malah membuat negara ini menjauh dari tujuan semula, yaitu membawa masyarakat Indonesia adil, makmur, dan berkeadilan di mana masyarakatnya menjadi kian cerdas dan bermartabat.
Jangan-jangan alamat yang dipegang para pengambil kebijakan pendidikan tersebut ternyata alamat palsu sehingga pendidikan nasional tak akan sampai pada tujuannya. Kepalsuan dalam dunia pendidikan hanya akan melahirkan ketidakadilan, frustrasi, dan pelecehan terhadap martabat para guru. Kepalsuan membuat tujuan pendidikan nasional tak akan tercapai. Ayu Ting Ting dengan alamat palsunya sesungguhnya menelanjangi kedunguan para pengambil kebijakan pendidikan karena mereka tak tahu lagi mau dibawa "ke mana" nasib para guru dan dunia pendidikan di negeri ini. (Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Kompas 15 Oktober 2011, p.7)
Saturday, January 22, 2011
Kriminal Atau Pahlawan
Kriminal atau Pahlawan
Jakob Sumardjo
Indonesia gudangnya cerita absurd, paradoks, dan irasional. Kita
sekarang tahu negeri ini semakin merosot justru karena pengelola
negara semakin kaya dengan kekayaan yang juga absurd.
Bayangkan seorang guru besar yang telah pensiun sesudah mengabdikan
diri mendidik para sarjana selama 40 tahun! Ia mendapatkan pesangon
pensiun sebesar Rp 34 juta dan uang pensiun setiap bulan Rp 2,5 juta.
Bandingkan dengan seorang pegawai pajak berusia 30 tahun yang berhasil
meraup uang negara puluhan—mungkin ratusan—miliar rupiah dan dihukum
tujuh tahun penjara. Belum lagi ribuan cerita absurd lain di negeri
ini.
Benarlah cerita pendek Somerset Maughan tentang belalang yang rajin
dan belalang yang malas menghadapi musim dingin. Tak usah rajin
bekerja di republik ini sebab para pemalas yang akan menikmati kerja
keras orang lain. Para pemalas itu bisa berstatus pejabat apa pun. Tak
mengherankan bahwa banyak kandidat pejabat yang rela menjual sawah,
ternak, bahkan rumah buat merintis jalan menduduki kursi jabatan.
Jabatan adalah kekuasaan. Dengan kekuasaan yang tak terkontrol siapa
pun, meski tersedia lembaga kontrol, Anda akan jadi despot gurem yang
cukup ampuh menilep hasil kerja keras belalang-belalang bodoh yang
masih percaya kisah moral macam itu.
Kekuasaan tidak bermoral
Rakyat negeri ini dikenal dan mengaku diri religius serta menjunjung
tinggi moral. Namun, apabila kekuasaan sudah tak bermoral, orang-orang
baik menjadi orang-orang bodoh. Di tengah belalang bodoh semacam itu,
si jahat bebas melakukan hukumnya sendiri yang berbalikan dengan
moralitas.
Terjadilah hukum terbalik di Indonesia: yang kerja keras tetap miskin,
yang tak bekerja justru kaya; yang jujur selalu salah, yang tak jujur
selalu benar; kejujuran adalah kebohongan, kebohongan adalah
kejujuran; yang profesional tak dipakai, yang amatir justru berkuasa.
Hukum terbalik inilah yang membuat negara dan bangsa bukan berjalan
maju, melainkan berjalan mundur. Bukan tak ada menjadi ada, tetapi
dari ada semakin tak ada. Indonesia pun menjadi tidak-Indonesia.
Hukum terbalik Indonesia ini hanya dapat dikembalikan dengan hukum
kewarasan kembali, yakni yang ditindas menjadi penindas, yang miskin
menjadi kaya dan yang kaya dimiskinkan, yang profesional mengganti
yang amatir, yang kriminal adalah kriminal, dan yang pahlawan adalah
pahlawan. Belalang rajin makan saat paceklik serta belalang malas dan
bodoh akan kelaparan.
Sekarang ini absurditas masih realitas bahwa kriminal adalah pahlawan
bangsa, sedangkan pahlawan sejati dijadikan kriminal. Negara ini
sedang menjadi negara kaum kriminal, tetapi para kriminal bukan masuk
penjara, justru menjadi para pahlawan bangsa. Apa beda antara pahlawan
dan kriminal?
Logika sekarang menyatakan: tidak ada bedanya. Semakin Anda brutal
dalam kriminal, dan dengan demikian kaya raya, Anda akan mendapatkan
pemuja-pemuja. Mereka bagai anjing-anjing yang setia menanti remah-
remah kriminalitas Anda.
Itulah sebabnya, para syahid korban kriminal ini menjelang kematian
tidak mau dikuburkan di taman makam pahlawan. Taman makam pahlawan
telah menjadi taman kriminal. Kalau mau menengok kuburan orang-orang
syahid Indonesia, lebih baik pergilah ke kuburan-kuburan rakyat
jelata, korban dari para pahlawan bangsa sekarang ini.
Semar gugat
Ada cerita dalam wayang Jawa tentang Semar gugat. Tokoh yang dipuja
orang Jawa ini hanyalah abdi atau hamba para kesatria Pandawa.
Wujudnya paradoks, lelaki tetapi ditampilkan berpayudara seperti
perempuan dalam fisiknya yang kebulat-bulatan. Dia adalah wakil rakyat
kecil. Namun, sebenarnya Semar yang juga bernama Ismaya atau Maya
adalah saudara kembar Manik atau Batara Guru yang berkuasa atas dunia
dan isinya.
Dalam cerita itu, Batara Guru sering memutuskan secara tidak adil
nasib manusia. Kita lihat bahwa para dewa saja bisa tidak adil,
apalagi dewa-dewa Indonesia sekarang. Melihat para majikan Semar
diperlakukan tidak adil oleh Batara Guru, Semar marah besar. Pandangan
matanya yang senantiasa berair dan kabur itu tiba-tiba mengalirkan air
mata terus-menerus. Perutnya menjadi mual dan kembung oleh
ketidakadilan sehingga kentut terus-menerus.
Bau kentut Semar bisa membuat mabuk para dewa, bahkan mematikannya.
Semar, yang hamba dina ini, akan naik ke swargaloka untuk menghajar
kembarannya, Batara Guru. Dengan mudah sang dewa penguasa itu dibekuk,
minta ampun, dan akhirnya berjanji akan berbuat adil.
Para guru besar, pengusaha jujur, atau petani yang keras bekerja di
terik matahari adalah Semar. Mereka cuma hamba-hamba pelayan
masyarakat yang telah lama diperlakukan tak adil oleh para dewa
kriminal.
Mata mereka tak rembes alias berair dan tak bisa kentut. Namun, mereka
adalah kekuatan terpendam: bisa marah seperti Semar berkulit hitam
legam. Si hitam ini akan mampu membekuk Batara Guru yang kuning.
Yang kuning dijadikan hitam dan yang hitam menjadi kuning. Hukum
terbalik itu sudah kodrati, tak bisa dihindari seperti hukum kematian
manusia. Begitu juga kriminal tak selamanya pahlawan.
Negeri ini tinggal tunggu waktu kapan jam 12 malam akan tiba, saat
Semar dan anak-anaknya muncul di layar wayang. Itulah saat Semar
menggugat kekuasaan yang sungsang terbalik ini.
Jakob Sumardjo Esais
http://cetak.kompas.com/read/2011/01/22/0445175/kriminal.atau.pahlawan
Saturday, January 08, 2011
PSSI Takut Adanya LPI
Ada sesuatu hal yang membuat saya sangat bingung,kenapa dan mengapa PSSI begitu melarang ada nya kompetisi saingan Liga Super Indonesia?Apa mereka takut tersaingi?atau memang ada pihak tertentu yang meminta agar PSSI melarang keras ada nya kompetisi di luar rencana PSSI?
Liga Primer Indonesia(LPI) adalah kompetisi gagasan Arifin Panigoro,ide ini keluar atas nama untuk ikut membantu perkembangan sepak bola di tanah air.Ada yang pro dan ada pula yang kontra,menurut pandangan saya rakyat sangat menerima adanya kompetisi ini,intinya rakyat pro atau mendukung ada nya kompetisi ini.Jadi siapa yang kontra?Yang kontra adalah mereka yang berdiri di atas otoritas sepak bola tanah air yaitu PSSI,sejak munculnya rencana pembentukan kompetisi Liga Primer Indonesia,PSSI langsung menolak keras rencana ini,tanpa mempertimbangkannya lagi.Namun Arifin panigoro tak menyerah begitu saja,Arifin bersih keras ingin membuka kompetisi yang lisensi nya di dapatkan langsung dari salah satu kompetisi terbaik di dunia yaitu English Primer Leaque(EPL) .LPI atau Liga Primer Indonesia,menerapkan sistim sebagaimana yang di gunakan oleh EPL.Ancaman dari ketua umum PSSI yaitu Nurdin Halid tak di dengar oleh Arifin,Arifin bersama rekan-rekannya terus berjuang agar rencana kompetisi ini tetap berjalan,dan hasilnya memang berbuah manis,sebanyak 19 klub Indonesia menyatakan akan mengikuti kompetisi ini.Dari 19 klub itu terdapat tiga klub yang terdaftar di kompetisi Liga Super Indonesia dan satu klub berasal dari divisi utama Indonesia yakni Persema Malang,Persibo Bojonegoro dan PSM Makasar serta Persebaya Surabaya.Tak ayal ke empat klub ini pun di ancam akan di coret dari daftar tim sepak bola PSSI,bila mereka bersikukuh untuk tetap mengikuti LPI.PSSI menyatakan sikap tegas terkait pengunduran empat klub dari Liga Super Indonesia (LSI) dan Divisi utama.Menurut Sekretaris Jendral PSSI, Nugraha Besoes, PSSI dan BLI akan mendegradasi ke empat klub tersebut dari LSI dan Dvisi Utama.
Adapun ketiga klub itu yang menyatakan diri keluar dari LSI adalah PSM Makasar, Persema Malang, dan Persibo Bojonegoro. PSSI menerima surat resmi pengunduran diri dari Persema Malang dan PSM Makasar pada tanggal 24 Desember 2010. Sementara Persibo Bojonegoro mengajukan surat resmi tertanggal 29 Desember 2010. Secara otomatis ketiga kesebelasan ini akan terdegradasi. Nilai yang telah dikumpulkan ketiga klub akan hangus. BLI juga akan memberikan sanksi kepada manajerial, pelatih, dan pemain dari ketiga klub ini terkait perpindahannya dari LSI ke LPI.
Memang apa yang di usung oleh LPI?
Sebagaimana dijelaskan oleh pihak Liga Primer Indonesia (LPI), kompetisi ini dibuat juga dalam rangka menciptakan kemandirian klub-klub sepak bola di Indonesia agar tidak selalu bergantung pada dana APBD daerah masing-masing. Mereka ingin klub-klub di Indonesia benar-benar profesional. Selama ini dengan mengikuti kompetisi ISL atau liga Indonesia yang dikelola PSSI, klub tidak mendapatkan penghasilan sebagaimana yang didapat klub-klub Eropa, seperti Liga Inggris,Italia,Spanyol dll. Konon LPI yang dikelola Pengusaha Arifin Panigoro bersama beberapa pengusaha Indonesia ini akan memberikan dana awal sebesar Rp 30 Miliar untuk setiap klub yang bergabung dengan LPI.Sebuah tawaran yang cukup menggiurkan bagi klub-klub Indonesia,karena kebanyakan diantaranya klub-klub Indonesia masih menyusui dana dari APBD.Klub mana yang tidak mau,bila di berikan modal untuk membentuk sebuah tim yang berkualitas.PSSI pun hanya bisa diam,tak ada yang berani berkata bahwa PSSI juga mampu untuk memberikan modal awal untuk setiap klub yang belum mampu untuk mandiri.PSSI hanya sanggup berkoar-koar untuk menolak ada nya kompetisi ini,namun PSSI tak sanggup memberikan solusi terbaik untuk sebuah klub yang masih menyusu dana dari APBD.Nurdin Halid beserta antek-antek nya bersikeras tetap menolak ada nya kompetisi ini,namun tolakan keras ini mendapatkan jawaban yang berbeda dari Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng,Andi mengatakan “saya sangat setuju dengan ada nya kompetisi lokal selain Liga Super Indonesia,apalagi kompetisi ini untuk ikut membantu mengembangkan sepak bola Indonesia menjadi lebih baik lagi,kenapa mesti dilarang” ujar Andi Mallarangeng.Seperti nya PSSI mendapatkan tamparan keras langsung dari Menpora,belum ada tanggapan lagi dari PSSI atas pernyataan Andi Mallarangeng ini.
Kemunculan LPI masih dibayangi resistensi dari PSSI. Otoritas sepakbola tanah air tersebut menjanjikan sanksi berat buat siapapun yang terlibat dalam kompetisi gagasan Arifin Panigoro tersebut.Namun beberapa klub yang berpartisipasi di LPI punya anggapan lain. Mereka kompak menyebut kalau kompetisi tersebut juga akan membantu membentuk sepakbola Indonesia yang lebih baik.”Menurut saya prospeknya bagus selagi tujuannya untuk memajukan persepakbolaan Indonesia dan menghasilkan prestasi. Saya yakin itu tak masalah dan PSSI tak akan memberi sanksi,” sahut ketua umum Persema Malang, Peni Suparto.Pernyataan senada terlontar dari Muhamad Al-Hadad, pelatih pelatih Manado United. Disebutnya, LPI membuka kesempatan yang lebih lebar buat pelatih dan pemain untuk menyalurkan kemampuannya.”Saya kira kompetisi seperti ini bagus karena membuka kesempatan untuk pelatih dan pemain. Selagi tujuannya untuk sepakbola Indoenesia, saya rasa tidak masalah,” sahut Al Hadad.
Menurut salah satu penggagas LPI, Meiriyon Moeis,”kemarahan PSSI tidak akan memengaruhi bergulirnya LPI. PSSI silakan saja marah. Hanya saja LPI tetap bergulir. LPI hanya ingin kompetisi yang bersih, transparan, dan keuntungan yang merata ke klub-klub”,ujar Moeis yang juga CEO Batavia FC, salah satu klub peserta LPI.Menyoal sikap tegas yang dilakukan PSSI termasuk kepada tiga klub yang mengundurkan diri dari Liga Super Indonesia (LSI), Moeis menanggapi santai. Walaupun mendapatkan ancaman kerasa dari PSSI,LPI akan tetap bergulir pada tanggal 8 Januari 2011,karena tidak mungkin bila LPI harus di gagalkan di tengah jalan,karena semua klub yang mengikuti LPI sudah melakukan teken kontrak dengan para pemainnya masing-masing.
Sesungguhnya LPI sudah berlaku sopan dalam membentuk kompetisi baru ini di Indonesia,Secara Resmi LPI telah melayangkan surat resmi permohonan penyelenggaraan turnamen,Namun PSSI tetap bersikeras, LPI dianggap telah melanggar kode etik sepakbola Indonesia (statuta FIFA). LPI telah melanggar statuta PSSI pasal 15 ayat H, UU no.3 tahun 2005 tentang keolahragaan, pasal 51 ayat 4, dan pasal 89. Pasal 15 ayat 1 (h) menyebutkan anggota PSSI mempunyai kewajiban untuk tidak menjalin hubungan keolahragaan dengan pihak yang tidak dikenal atau dengan anggota yang diskorsing atau dikeluarkan.
Apa yang di takutkan oleh PSSI sehingga kompetisi ini dilarang untuk menyaingi Liga Super Indonesia(LSI)?
Ada banyak kemungkinan yang akan terjadi bila kompetisi Liga Primer Indonesia jadi di jalankan,yaitu salah satunya akan tampak jelas nya pengaturan jadwal yang buruk di kompetisi Liga Super Indonesia yang di pimpin oleh PSSI,sedangkan LPI yang di pimpin langsung oleh management dari English Primer Leaque(EPL) bersama beberapa penggagas LPI,akan menunjukan bagaimana jadwal kompetisi yang sehat dan benar.Munkin anda semua tahu bagaimana berantakannya jadwal kompetisi LSI yang di susun oleh PSSI,bayangkan saja sebuah klub bisa bertanding 8 pertandingan dalam waktu satu bulan,bila di hitung-hitung satu minggu nya mereka bertanding 2 kali dengan klub yang berbeda-beda.Dengan jadwal yang berantakan seperti ini,maka akan sulit sepak bola Indonesia berkembang dengan sangat pesat dan cepat.Satu hal lagi yang di takuti oleh PSSI terhadap kompetisi PSSI yaitu takut kehilangan sponsor yang selama ini ikut mendukung penyelenggaran LSI.Karena sebelum adanya rencana kompetisi saingan LSI yaitu LPI,pihak sponsor sudah memberikan ancaman akan membatalkan kontrak bila sistim yang di gunakan oleh PSSI tidak berubah menjadi baik,terutama perihal berantakan jadwal pertandingan.Seandainya LPI berhasil menyusun jadwal dengan baik,maka sudah pasti akan banyak sponsor yang mendukung ada nya kompetisi ini,dan kemungkinan besar nya,sponsor yang mendukung LSI akan mundur dan berlabuh mendukung kompetisi LPI.Bayangkan saja jika hal ini terjadi,PSSI akan kehilangan uang sebesar 17 milyar dari pihak sponsor.Hal ini lah yang sebenarnya sangat di takuti oleh PSSI,di permalukan oleh kompetisi LPI.Seperti apa yang sudah pernah saya tuliskan di topik sebelumnya yaitu “Uang Masuk Ke PSSI,Tak Jelas Ke Mana“….PSSI akan kehilangan sumber pemasukan dari sponsor,yang sampai saat ini uang sponsor itu sebenarnya lari kemana,karena hadiah yang di berikan untuk sang juara LSI hanya sebesar tak lebih dari 2 milyar,dan sisa nya entah kemana.
Saya pribadi menilai ini sebagai wacana menarik sekaligus sebuah ironi. Jika benar-benar jadi digelar,Liga Primer Indonesia(LPI) ini tentu akan menjadi saingan ISL versi PSSI. Bisa menimbulkan perpecahan tidak hanya dikalangan elite tapi juga diakar rumput (suporter) dalam memberikan dukungannya, terhadap ISL atau LPI. Sisi positifnya, jika berhasil maka ini akan menjadi revolusi sepakbola yang cantik. Jika pun tidak jadi digelar, setidaknya ini menjadi shock therapy untuk pengurus PSSI termasuk pemerintah dalam hal ini yang selama ini dinilai tidak kompeten dalam mengelola sepak bola nasional.
Bagaimana dengan tanggapan anda semua?
“SAATNYA REVOLUSI PSSI”
Friday, January 07, 2011
Selamat Datang LPI
Alhamdulillah, Liga Primer Indonesia mulai bergulir Sabtu (8/1) ini di Solo dan mempertemukan tuan rumah Solo FC melawan Persema Malang. Liga yang diikuti 19 klub ini akan menjadi kompetisi alternatif yang bertujuan menyuguhkan pertandingan sportif, bermutu, bebas pengaturan skor, aman, dan tidak rusuh.
Liga Primer Indonesia (LPI) sudah disiapkan selama berbulan-bulan melalui studi kelayakan yang mendalam, baik dari segi komersial maupun manajemen penyelenggaraannya. Tak banyak penggiat sepak bola yang berani memulai pekerjaan besar penuh tantangan yang melibatkan ruang, waktu, tenaga, dan dana berskala raksasa ini.
Insya Allah kelak terbukti satu musim kompetisi LPI bisa memutar dana empat kali lebih besar sampai sekitar Rp 2 triliun. Potensi penonton sepak bola di negeri ini bisa melebihi kompetisi di Eropa, seperti Liga Inggris atau Liga Italia.
Dukungan terhadap LPI terbukti pula lewat keterlibatan sponsor dan stasiun televisi asing, Star Sports, dan lokal, Indosiar. Hampir 100 persen media massa nasional ataupun lokal tertarik memberitakan hal ihwal mengenai LPI.
Pemerintah, sejak Kongres Malang tahun lalu, juga memberikan dukungan terhadap reformasi PSSI melalui keberadaan LPI. Begitu pula berbagai kalangan aktivis sepak bola nasional dan daerah siap ambil bagian, antara lain terwujud lewat pembentukan 19 klub LPI.
Jauh lebih penting lagi adalah dukungan masyarakat, khususnya penggemar sepak bola. Animo penggemar belakangan ini meningkat, antara lain tampak dari kehadiran puluhan ribu penonton sejak Piala Asia 2007 sampai AFF baru-baru ini.
Tak ada resep rahasia untuk membentuk timnas yang andal kecuali kompetisi, kompetisi, dan kompetisi. Namun, kompetisi yang bagaimana, itulah pertanyaan pokoknya.
Kompetisi yang bersih, itulah yang ingin dicoba LPI. Sebab, kompetisi selama beberapa tahun belakangan ini keburu kotor.
Aneh jika kompetisi yang kotor tetap dipertahankan, sementara yang mau bersih malah dicurigai. Itulah keganjilan yang kita saksikan beberapa hari terakhir ini.
Anda, saya, siapa pun boleh menyelenggarakan kompetisi karena itu adalah hak setiap warga negara. Larangan memutar kompetisi sungguh aturan yang keliru.
Tak ada ketentuan melarang setiap pemain, termasuk dua pemain Persema, Irfan Bachdim dan Kim Jeffrey Kurniawan, bergabung dengan timnas.
Setiap pemain yang memenuhi persyaratan berhak diseleksi untuk memperkuat timnas dari kompetisi mana pun dia berasal, baik dari liga profesional, amatir, maupun mahasiswa.
Terlebih lagi lambang Garuda dan bendera Merah Putih yang terpampang di kostum pemain menyimbolkan, timnas mewakili bangsa dan negara, bukan PSSI semata-mata. Secara moral, timnas milik masyarakat, PSSI hanya organisasi yang mengelola.
Acungan jempol layak ditujukan kepada Arifin Panigoro, penggiat yang telah lama berkecimpung dalam kompetisi Liga Medco yang bertujuan mencari bakat-bakat remaja kita. Keliru besar jika mengait-ngaitkan aktivitas Arifin Panigoro dengan ambisi politik murahan memanfaatkan sepak bola hanya untuk ajang pencitraan atau bisnis belaka.
Kegalauan Arifin Panigoro, yang prihatin dengan karut-marut persepakbolaan nasional, tidak jauh berbeda dengan kegalauan kita semua. Ia berupaya membuktikan, jika dikelola secara profesional, sepak bola kita tidak jauh ketinggalan dari negara-negara Asia Tenggara.
Justru karena prestasi yang amat terpuruk itulah muncul gagasan memutar kompetisi LPI. Selama kepemimpinan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, yang berlangsung sejak 2003, tak satu pun gelar juara tingkat regional berhasil direbut timnas.
Satu-satunya gelar juara diperoleh melalui sebuah turnamen yang sifatnya hanya undangan kepada timnas-timnas asing berlaga di Piala Kemerdekaan 2008. Gelar juara kita kontroversial karena direbut melalui cara-cara kurang sportif. Di babak pertama final, kita ketinggalan dari Libya 0-1. Saat jeda, salah seorang ofisial kita memukul Pelatih Libya. Mereka
Fakta obyektif bahwa Nurdin Halid gagal mempersembahkan gelar juara sudah mencukupi untuk menjatuhkan vonis bahwa ia kurang layak lagi memimpin PSSI. Nurdin bukan Kardono yang meloloskan timnas ke juara subgrup penyisihan Piala Dunia 1986 dan semifinal Asian Games 1986, juga bukan Azwar Anas yang membawa timnas juara SEA Games 1991.
Sudah jadi rahasia umum kompetisi selama delapan tahun terakhir kurang bermutu, kurang sportif, dan kurang aman. Keputusan PSSI menghukum klub, wasit, atau pemain kurang konsisten karena sering diralat sendiri demi kepentingan kurang jelas.
Akibatnya, prestasi timnas terpuruk karena kita sudah dikalahkan negara-negara mini, seperti Laos atau Timor Timur. Sampai kapan kita harus hidup dengan prestasi timnas yang memprihatinkan ini?
LPI merupakan momentum dan era baru sepak bola nasional kita yang mesti dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan prestasi timnas. Tentu tidak mudah dan juga tak ada jalan pintas atau instan dalam sepak bola, kecuali kompetisi.
Jangan menghalangi niat tulus dan cita-cita luhur kita, pencinta sepak bola, untuk meraih prestasi setinggi-tingginya. Kita sudah melangkah dengan kaki kanan dan mari ucapkan ”Selamat datang LPI”!
Tuesday, July 20, 2010
Lomba Membuat Blog dengan bahasa Ngapak
1. Mengingat bahasa ngapak merupakan salah satu khasanah budaya bangsa yang perlu dilestarikan agar tidak hilang.
2. Membaca tulisan di Kompas cetak tanggal 17 Juli 2010 halaman 12, yang menyebutkan bahwa bahasa ngapak sudah mulai masuk ke ambang kepunahan, khususnya di kalangan generasi muda.
3. Melihat kenyataan blogger yang menulis dalam bahasa ngapak semakin lama semakin berkurang.
4. Memperhatikan komentar di blog yang menanggapi tulisan di Kompas tersebut , yang intinya mendukung diadakannya lomba menulis blog dalam bahasa ngapak.
Umum
1. Nama kegiatan :
Lomba Menulis Blog Dalam Bahasa Ngapak
2. Waktu :
Sejak pengumuman ini dibuat sampai dengan bulan September 2010
3. Tempat :
Blog masing-masing peserta
4. Panitia :
Rawin, Semar, Grontol, Ali Rahmat.
5. Juri :
Kategori Artikel : Ali Rahmat, Akmal Lutfi, Grontol
Kategori Cerita : Ahmad Tohari, Bowo Leksono, Rawin
Kategori Puisi : Semar, Pacul
6. Hadiah :
Novel Jenginger karya Ahmad Tohari yang merupakan versi ngapak dari novel Bekisar Merah. Masing-masing kategori akan dipilih 3 pemenang. Ditambah 1 juara favorit akan diberikan copy novel Ronggeng Dukuh Paruk versi ngapak
7. Peserta :
Lomba bisa diikuti oleh siapapun tanpa melihat batasan wilayah domisili, namun batasan wilayah budaya yang diangkat dalam tulisan dibatasi hanya untuk daerah yang masih memliki kultur ngapak meliputi wilayah Banyumas, Tegal, Kebumen dan sekitarnya.
Teknis Lomba
1. Pelaksanaan lomba bersifat online melalui blog dan tidak diijinkan melalui media lain seperti email, surat apalagi sms.
2. Setiap peserta wajib memiliki blog. Bentuk dan hosting blog bebas sepanjang bisa dibuka untuk umum tanpa harus mendaftar untuk membacanya.
3. Bahasa umum dalam blog tersebut bebas dan tidak harus membuat blog khusus ngapak.
4. Setiap peserta minimal mengikutsertakan satu tulisan yang harus dalam bahasa ngapak.
5. Apabila ada penggunaan kata yang bersifat lokal atau hanya diketahui oleh daerah tertentu dalam lingkup sempit, wajib diberikan keterangan arti di akhir tulisan.
6. Tulisan tersebut didaftarkan di kolom komentar blog disini dengan memberikan link tempat tulisan tersebut di posting, paling lambat tanggal 30 September 2010 pukul 24:00 wib.
7. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu tulisan di setiap kategori. Semakin banyak semakin bagus.
Kategori Tulisan
Tulisan yang dilombakan dibagi dalam 3 kategori, yaitu : artikel, cerpen dan puisi.
Tema untuk artikel dibagi dalam 3 sub kategori, yaitu :
1. serba serbi bahasa ngapak
2. wisata budaya atau sejarah daerah penutur ngapak
3. kondisi terkini atau kritik sosial
Tema untuk cerpen dibagi dalam 3 sub kategori, yaitu :
1. cerita remaja
2. cerita budaya
3. cerita dagelan
Tema untuk puisi bebas
Mohon diberi keterangan di akhir tulisan, bahwa tulisan tersebut didaftarkan dalam kategori dan tema apa. Misalkan kategori: artikel tema: wisata budaya
Penilaian
1. Juri akan menilai setiap tulisan di masing-masing blog setelah link tulisan tersebut didaftarkandisini.
2. Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat. Pengumuman pemenang akan diumumkan di blog yang sudah ditentukan.
3. Pemenang akan dihubungi lewat email untuk konfirmasi pengiriman hadiah.
Semoga bahasa ngapak tetap lestari
Salam budaya
Rawins
Tambahan :
1. Apabila ada kesulitan dalam kegiatan lomba atau ada sumbang saran, kripik atau mendoan silakan tulis di kolom komentar blog yang ini atau hubungi panitia melalui imel ngapak@rawins.net
2. Mohon dibantu publikasi untuk menyebarluaskan kegiatan lomba ini kepada teman-teman ngapak.
3. Panitia dan Juri diperbolehkan mengirim tulisan tapi tidak akan diikutsertakan dalam penilaian.
4. Tulisan yang bermutu akan diarsipkan dalam bentuk e-book untuk didistribusikan ke lembaga budaya dan jaringan radio komunitas.
5. Setiap peserta setuju untuk mengijinkan tulisan yang dilombakan dipergunakan untuk bahan siaran radio komunitas atau dibuat skenario oleh komunitas film lokal tanpa royalti sejauh tidak untuk kepentingan komersial. Kecuali ada kebijakan tersendiri dari komunitas yang bersangkutan.
6. Hal-hal yang belum tercantum diatas akan ditentukan kemudian.
Penjelasan Lebih lanjut silakan klik Official Blognya
Diterusna sekang http://blog.rawins.com/2010/07/lomba-nulis-ngapak.html
Saturday, January 02, 2010
"Gitu Aja Kok Repot"-nya Gus Dur
Abdul Munir Mulkhan
Pernyataan yang sering dipakai Gus Dur untuk mengomentari persoalan, sikap seseorang, atau lembaga, ”Gitu aja kok repot”, mengesankan sikap permisif. Mungkin itu pula komentarnya terhadap ribuan pelayat dan penziarah yang ingin mendekap makamnya.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, orang seperti Gus Dur tentu mulus melewati berbagai sensor malaikat di alam kubur. Boleh jadi seloroh penuh makna itu merupakan kunci suksesnya juga di alam pascaduniawi ini.
Menjelang malam tiba saat matahari melangkah ke pintu peraduannya hari Rabu, 30 Desember 2009, Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 RI, berpulang ke haribaan Allah, meninggalkan kita semua dalam labirin kehidupan tanpa ujung. Namun, seloroh dan canda guraunya yang selalu membuat pendengarnya tertawa lepas tercerahkan sehingga tak pernah lupa lelucon segarnya, bukan hanya karena lucu, tetapi juga karena penuh makna, akan selalu menyertai kita pada hari- hari menyusuri lorong tersebut. Tampak samar, tetapi jelas secercah cahaya di ujung labirin yang disulut Gus Dur itu bagaikan Sang Guru di depan ruang kelas yang sedang mengajar tentang kemanusiaan dan kebangsaan.
Begitulah,
Gus Dur dengan penuh percaya diri mengaku sebagai memiliki darah China, Dayak, Pasundan, Batak, darah segala suku dan etnis yang terasa aneh dan tidak masuk akal bagi banyak orang. Namun, itulah cara Gus Dur berempati dengan segala ragam budaya dan etnisitas, juga religiusitas. Tokoh puncak NU ini dengan enteng menyatakan kekagumannya kepada tradisi organisasi Muhammadiyah, akan mengembangkan tradisi itu saat berhadapan dengan aktivis gerakan ini tanpa kehilangan ke-NU-annya.
Wafatnya Gus Dur menyentak kita semua meski sudah cukup lama beliau sakit. Suasana itu membawa penulis menerawang ke masa pertama bertemu di sebuah hotel di kawasan Jalan Taman Siswa, Yogyakarta, sebelum Gus Dur menjabat Ketua PB NU. Kenangan ini menuntun penulis ke masa-masa bercanda di sekeliling meja kerja Gus Dur di kantor PB NU bersama Ahmad Dhani, Holland Taylor (CEO LibForAll), dan beberapa wartawan.
Cengkerama sesaat setelah LibForAll Foundation memberi penghargaan kepada si Raja Dewa, Ahmad Dhani, tiba-tiba disela pernyataan seorang teman, ”Gus, inilah orang yang memopulerkan kembali Syekh Siti Jenar!” sambil menunjuk dan menyebut nama penulis. Gus Dur berkata, ”Mas Mulkhan!” begitu Gus Dur memanggilku, ”dari garis ayah, saya ini keturunan Syekh Siti Jenar
Beberapa tahun kemudian, penulis bertemu kembali dengan Gus Dur dalam seminar tentang Pancasila di Universitas Parahyangan, Bandung. Tiba gilirannya, Gus Dur menjelaskan bahwa dirinya adalah keturunan raja-raja Pasundan. Ketika seorang ahli sejarah Pasundan meragukan dan meminta informasi tentang referensi kebenaran pernyataan Gus Dur tersebut, dengan enteng Gus Dur menjawab bahwa sumbernya ialah Ki Juru Kunci. Mendengar penjelasan tersebut, peserta seminar pun tertawa lepas. Lebih lanjut, Gus Dur menjelaskan bahwa dirinya merupakan keturunan Kiai Kasan Besari dari Tegalsasi Ponorogo, guru sang pujangga Ronggowarsito.
Tak mau kalah dengan Gus Dur, penulis segera berkata, ”Jelek-jelek Gus, saya ini adalah cucu buyut Kiai Kasan Besari.” Mendengar itu, Gus Dur hanya berdehem kecil. Penulis melanjutkan, ”Jika Gus Dur bertanya apa buktinya, buktinya adalah Ki Juru Kunci.” Spontan Gus Dur berkata, ”Wah,
Beberapa minggu kemudian muncul tulisan Gus Dur di sebuah harian ibu kota tentang Islam kebangsaan dan kemanusiaan. Dari Kiai Kasan Besari itu, urai Gus Dur dalam artikel itu, lahir generasi Islam kebangsaan dan kemanusiaan melalui dua alur, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dari alur NU lahir beberapa ulama besar yang menurunkan tokoh seperti Gus Dur sendiri. Sementara dari alur Muhammadiyah, menurut Gus Dur, menurunkan elite gerakan seperti Kahar Muzakkir, Syafii Ma’arif, dan penulis sendiri. Begitulah gaya Gus Dur menjelaskan nilai-nilai Pancasila dan Islam yang rumit menjadi sebuah kisah yang yang mudah dicerna, diingat, dan dipahami oleh semua kalangan.
Nasionalisme Islam yang humanis, toleran, dan pluralis, menurut Gus Dur, bisa dilacak dari kisah sejarah dan legenda tentang Kiai Kasan Besari tersebut. Itulah barangkali salah satu warisan paling berharga Gus Dur yang perlu dicermati dan dikembangkan.
”Selamat jalan, Gus!” Semoga kelak kita dipertemukan dalam perjamuan Tuhan di kampung surgawi. ”Gitu aja kok repot!”
Warisan Gus Dur
Sabtu, 2 Januari 2010 | 04:46 WIB
Jaya Suprana
Saya terkenang bagaimana ketika menempuh perawatan hemodialisis akibat telah mencapai tahap gagal ginjal terminal, Gus Dur tampak selalu segar bugar, ceria, dan tetap bersemangat berkisah dirinya sempat resmi dituntut sebuah ormas untuk diadili dengan tuduhan menghina agama Islam lewat pernyataan bahwa Al Quran adalah kitab suci pornografis. Ketika saya menganggap tuduhan itu tidak benar, Gus Dur malah dalam gaya biarnisme nakal membantah: ”Biar saja, biar rame!”
Gus Dur selalu mengingatkan saya kepada filsuf Yunani—tepatnya Athena— tersohor, Socrates, yang—menurut Plato— gemar melontarkan komentar-komentar humoristis yang sering keliru ditafsirkan sejumlah pihak tidak mau dan/atau tidak mampu memahami kandungan makna yang sebenarnya amat luhur.
Kini telah disepakati bahwa Socrates salah seorang filsuf terbesar yang pernah hidup di Planet Bumi ini dengan pengaruh signifikan terhadap pemikiran peradaban dan kebudayaan Barat. Namun, pada masa hidupnya menjelang akhir abad III sebelum Masehi, Socrates dicurigai, dicemooh, dikecam, dan dihina sebagai insan eksentrik suka bicara ngawur. Bahkan, akibat lontaran komentar yang keliru ditafsirkan, Socrates dituduh menghina agama dan lembaga penguasa hingga akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh dewan juri pengadilan kota Athena pada tahun 399 sebelum Masehi.
Sementara itu, di Indonesia, pada tahun 2001 setelah Masehi, akibat berbagai sikap, perilaku, dan komentar yang keliru ditafsirkan, Gus Dur memang tidak dihukum mati, tetapi dipaksa lengser dari jabatan Presiden oleh MPR dan DPR yang pada masa itu masih memiliki kekuasaan untuk dengan sangat mudah melengserkan presiden.
Semasa hidup, Socrates dibenci kaum penguasa kota Athena sebab terlalu lantang dan terlalu terbuka melempar kritik terhadap sikap dan perilaku demokrasi semu pemerintah Athena. Demikian pula pada masa rezim Orde Baru, Gus Dur juga dibenci mereka yang sedang berkuasa akibat ketua ormas Islam terbesar di dunia ini berani mengkritik kediktatoran penguasa Republik Indonesia. Begitu benci rezim Orba terhadap Gus Dur, sampai konon muncul instruksi rahasia untuk—sama dengan Socrates—membunuh Gus Dur, tetapi—beda dari Socrates—sebelum niat itu terlaksana, rezim Orba telanjur lengser.
Akibat aneka ragam komentar kontroversial, Socrates dibenci dewan perwakilan warga Athena. Sama halnya dengan Gus Dur jahil menyamakan para anggota DPR dengan murid TK sebagai penyulut sumbu kebencian DPR terhadap Presiden!
Di dalam apologi tersirat kekaguman Plato terhadap Socrates sebagai tokoh yang berani menyatakan yang benar sebagai benar, yang keliru sebagai keliru, dan berani mengambil langkah-langkah kontroversial demi mempersembahkan yang terbaik bagi rakyat Athena. Sama halnya dengan para tokoh cendekiawan dan budayawan nasional dan internasional yang kagum terhadap sosok Gus Dur yang selalu gigih maju tak gentar menerjang kemelut deru campur debu bepercik keringat, air mata, dan darah demi menegakkan kebenaran di bumi Indonesia.
Pada masa Orba, Gus Dur paling berani secara terbuka memprotes kezaliman pemerintah. Hanya Gus Dur yang berani secara terbuka membela Arswendo Atmowiloto ketika menjadi korban ketidakadilan. Hanya Gus Dur yang berani membela kaum minoritas tertindas di Indonesia masa Orba kemudian setelah menjadi Presiden nyata memperjuangkan hak-hak kaum minoritas!
Hanya Gus Dur yang sadar bahwa urusan sosial dan pers sebenarnya bukan urusan pemerintah tetapi masyarakat sendiri, maka membubarkan Departemen Sosial dan Departemen Penerangan. Namun— sama dengan nasib Socrates—perjuangan Gus Dur membela kemanusiaan dan menegakkan kebenaran di persada Nusantara sering tidak atau sulit dipahami masyarakat semasa hingga sering keliru ditafsirkan sebagai ulah negatif bahkan destruktif. Cuap-cuap Socrates menjengkelkan kaum penguasa kota Athena, sementara ceplas-ceplos Gus Dur ketika menjadi Presiden sangat ditakuti pimpinan Bank Indonesia sebab dianggap rawan mengguncang stabilitas moneter dan ekonomi nasional!
Sama dengan Socrates, Gus Dur semasa menjadi Presiden dituduh eksentrik, ngawur, bahkan membahayakan negara dan bangsa hingga akhirnya—meski tidak dibunuh seperti Socrates—dilengserkan dari jabatan kepala negara! Gus Dur layak masuk MURI sebagai orang yang paling sering dikelirutafsirkan, terbukti namanya saja sering disebut ”Pak Gus Dur” akibat keliru tafsir bahwa ”Gus Dur” sebuah nama, padahal istilah ”Gus” sebenarnya sebutan dialek Jawa Timur berbobot sudah sama terhormat dengan ”Pak”.
Dalam salah satu perjumpaan terakhir dengan sahabat dan mahaguru yang sangat saya hormati, kagumi, dan cintai, saya sempat bertanya mengenai apa sebenarnya yang keliru pada bangsa dan negara Indonesia pada masa kini. Gus Dur menghela napas sejenak lalu berkisah sebuah hadis Al Sukuni meriwayatkan dari Abu Abdillah Al Shadiq, ”Ketika Nabi Muhammad SAW menyambut pasukan sariyyah kembali setelah memenangkan peperangan, Beliau bersabda: ’Selamat datang wahai orang-orang yang telah melaksanakan jihad kecil tetapi masih harus melaksanakan jihad akbar!’ Ketika orang-orang terheran-heran lalu bertanya tentang makna sabda itu, Rasul SAW menjawab: ’Jihad kecil adalah perjuangan menaklukkan musuh. Jihad akbar adalah jihad Al-Nafs, perjuangan menaklukkan diri sendiri!”
Terima kasih dan selamat jalan, Gus Dur!
Selamat berjuang, bangsa Indonesia!
Jaya Suprana Sahabat dan Murid Gus Dur
Wednesday, March 04, 2009
Mlaku-Mlaku Olah Raga
Esuk-esuk bar jalan-jalan olah raga nang kompleks perumahan Tanjung Mas Raya, kompleks perumahane wong sing sugih-sugih, nang ndalan disodori brosur Mobil Toyota sekang Show Room Mobil Toyota sing nembe bae bukak nang Jl.Tanjung Barat Raya, Jakarta Selatan.
Lha sing menarik dudu gambar mobil-mobile utawa carane tuku mobil apa cash, kredir, apa tukar tambah, ning nang brosuré kuwe ana tempelane selembar kertas sing isine kaya kiye:
"Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang duda dengan 3 orang anak yang sudah menginjak dewasa. Dudua itu terbilang cukup kaya di desanya. Ia memiliki rumah, tanah, dan 19 ekor sapi. Suatu saat duda itu mengalami sakit keras, bahkan tipis harapan untuk sembuh. Merasa ajalnya sudah dekat, sang duda memanggil ke-3 anaknya untuk diberi wasiat berupa pembagian harta warisan terutama ke-19 sapinya.
Kepada anak sulung, sang ayah berpesan dia akan memperoleh 1/2 dari jumlah sapinya. Sedangkan anak yang kedua akan memperoleh 1/4 dari jumlah sapi, dan anak bungsu akan memperoleh 1/5 dari jumlah sapi yang duda itu miliki.Tak lama kemudian, duda itu pun meninggal dunia.
Setelah Bapaknya dimakamkan dan situasi mulai tenang, ketiga ahli waris itu pun mengadakan rapat guna membagi 19 ekor sapi peninggalan ayahnya tersebut. Ke-19 sapi tersebut dibagikan sesuai dengan amanat almarhum ayahnya., yakni 1/2 untuk anak sulung, 1/4 untuk anak ke-2, dan 1/5 untuk si bungsu. Akan tetapi mereka barub sadar bahwa hasil pembagian ternyata tidak utuh. Dari hasil pembagian tersebut, anak sulung menerima 9 1/2 sapi, anak kedua menerima 4 3/4, dan si bungsu menerima 3,8 sapi.
Mereka menjadi bingung. Tidak tahu bagaimana cara membagi sapi-sapi itu. dalam kebingungan itulah, ego mereka masing-masing muncul. Semua menginginkan sapi diterima utuh tanpa ada yang dipotong-potong. si sulung menuntut lebih, mengingat dia adalah pewaris utama, sementara adik-adiknya yang lain pun tentu tidak mau mengalah.
Tidak jauh dari rumah mereka sebenarnya tinggal paman mereka yang tergolong miskin. Tidak mempunyai banyak tanah dan hanya memiliki seekor sapi warisan dari ayahnya dulu. Itu pun sudah sangat kurus dan tidak terawat.
Akibat kehidupannya yang miskin itulah, sang paman hampir tidak pernah diperhatikan oleh keluarga almarhum duda kaya itu, apalagi perhatiandari ketiga keponakannya. Namun demikian, berita mengenai pertentangan ketiga keponakannya dalam membagi 19 sapi tersebut sampai juga ke telinganya.
Setelah mengetahui titik permasalahannya, dengan hati yang tulus dia berkata kepada ketiga keponakannya itu, "Ambillah sapi paman yang satu-satunya ini, mungkin berguna untuk memecahkan masalah kalian bertiga!"
"Wah ide yang bagus.Kalau begitu sekalian saja paman yang membaginya untuk kami, supaya adil!" sahut si sulung dengan mantap.
Dengan senang hati, sang paman pun bersedia untk membantu membagi sapi warisan itu. Ditambah satu sapi miliknya,jumlah sapi sekarang menjadi 20 ekor. Sesuai dengan porsi pembagian yang telah diwasiatkan sang ayah, maka si sulung memperoleh 10 ekor sapi (1/2 dari 20), adiknya yang nomor dua mendapatkan 5 ekor (1/4 dari 20), dan si bungsu memperoleh 4 ekor (1/5 dari 20).
"Apakah kalian puas dan merasa adil dengan apa yang kalian terima?" tanya sang paman. "Sangat puas paman!" sahut ketiga keponakannya.
"Sesuai wasiat ayah kalian, sekarang masing-masing sudah mendapat 10,5, dan 4 ekor sapi. Jadi total jumlah sapi yang dibagi ada 19 ekor, sedangkan sapi yang ada adalah 20 ekor. Berarti ada sisa satu lagi. Nah, yang satu ekor ini paman bawa pulang lagi ya!" pinta paman mereka dengan tersenyum. (Pamane kaya Abunawas apa ya?)
Sekedar kisah untuk panduan pemilu 2009. Kriteria pemimpin kurang lebih seperti karakter "paman" pada cerita di atas, antara lain solutif dan rela berkorban. Menurut Anda? Sing liane anu iklan,,,,ora tek tulis nang kene.
Inyong mung lagi bingung campur mengen. Wektu sapiné 19, dibagi ora dadi, pating prenthil. Ning baring sapiné 20 koh dadi pas. jaaan,,,uwis kaya kuwe, sapi sing dibagi warisan ya kur 19,,,,,Kepriwe kuwe jajal?
Tuesday, January 27, 2009
Wani Ngalah Luhur Wekasané?
Dedalané guno lawan yekti,Kudu andap asor,Wani ngalah luhur wekasané,Tumungkulo yén dipun dukani,Bapang dén simpangi,Ana catur mungkur.
Laguné kepénak dirungokna. Apamaning goli rengeng-rengeng wektuné sore, suasané udan ngrecéh. Goli rengeng-rengeng karo ngemban putuné. Agi inyong esih cilik tah ora patia nggatekna isi utawa makna tembang mau kejaba suarané wong tuwa mau sing pancen kepenak derungokna.
Ning bareng Inyong maju gedhé, sok mikir, kayané ana sing kurang pas goli maknani tembang mau. Ora jumbuh utawa ora pas karo kersané sing nganggit.
Inyong pribadi nganggep, nek "lirik" tembang mau "bernuansa" Islami. Ning jalaran ana sing penafsirané ora nganggo cara Islam, mulané kasilé cokan "kontradiksi" karo cita-cita Islam rahmatan lil 'alamin.Magé jajal mayuh ditafsirna unggal baris. Inyong nafsir nganggo ngelmuku sing mung saipet, panjenengan pada mbok kagungan pinemu sing liya, sing lewis maen lan pas, nggih mangga pada urun rembug.
Jajal mayuh dipirsani:
Dedalané guna lawan yekti, ngemu teges : dadi wong angger kepéngin mupangati kanggo wong akéh lan kajén.Kudu (gelem) andap asor.Andap asor kuwe angger diteropong nganggo kacamata Islam ya kurang lewiéh tawadhu. Kenangapa tawadhu? Wong sing tawadhu kuwe ngrasa esih akeh kekurangané, mulané kanggo nggenepi kekurangané mau, banjur gelem utawa sregep ngangsu kawruh. Angger wong sing pinter, lewih seneng mbagi kawruhe maring wong sing "mara/mjaluk" kanthi andap asor. Angger wong sing angkuh, sombong, utawa takabur biasané kurang disenengi. Apa maning mbagi ilmuné, kenal bae madan bebeh.
Wani ngalah luhur wekasane
Lha baris sing siji kiyé sing cokan salah penafsiran. Dadi pengamalané ora cocog karo kersané sing nganggit tembang kiyé. Biasané ditafsirna kaya kiye: nek gelem ngalah (ora nglawan) ujaré dadi luhur wekasané. Apa iya? jajal mayuh nggolet berita nang koran. Ana kabar transmigran (jawa) sing mataun-taun ngolah tanah, asalé tanah cengkar/tandus wis dadi subur, siki kudu ngalah ninggalna tanah garapané jalaran diklaim nang penduduk asli lan dianggep tanah nenek moyangé. wong-wong mau pada njaluk lahan sekang petani transmigran. Wong jawa ngalah. terus nggelandang maring endi baé nggolet rejeki.
Lha sekang conto mau nyata nek wani ngalah, ora kuhur wekasané. Jalaran kuwe tafsiran sing luput utawa keliru. Banjur tafsir sing bener sing kaya ngapa? Tumrapé Inyong sing demaksud wani ngalah nang konteks kiye kuwe ditafsir "Wani Ing Allah. Mengko disit, aja giri-giri takon, lho deneng si wani ing Allah. Wani nang kene kuwe mangsude dudu ateges nglawan Gusti Allah, utawa ingkar, nanging wani mérek maring Allah. Taqarub. Wong nek uripé taqarub maring Allah, mesthi luhur alias ora nistha.
Tumungkulo yen dipun dukani.
Kawit jaman Inyong cilik nganti semene gedhene, nduwe penganggep, sapa sing ndukani mesthi ngemu pitutur kanggo sing didukani. Apa sebabe? Jalaran sing ndukani ngersakaken, sing didukani kelakuané lewih becik, apik, saenggo ora gawe keluputan anyar utawa mbaleni keluputan sing uwis-uwis. Tembang mau ngongkon Inyong lan panjenengan kabeh tumungkul mirengaken lan migatekaken.
Bapang dén simpangi.
Tegesé, sekabehe sing bakal ndadekna rubeda utawa konflik kudu diindari. Aja ngorobi utawa ngompori. Sebisa-bisa nggolet persamaané aja digolet perbedaané. Simpangi, ora ngemu teges pengecut, ning usaha kanggo nggolet paseduluran, dudu permusuhan.
Ana Catur Mungkur
Catur nang kene bisa mengku teges "pengendikan sing ora produktif". Ora produktif sing dimaksud kuwe bisa awujud isyu, gosip, ghibah,utawané fitnah. Umumé catur nuansane provokatif. Mulane kudu mungkur. Mungkur dudu asal mungkur, ning kudu dimaknai Tabayun utawa klarifikasi.
Mulane karo tafsir mau moga-moga Inyong lan panjenengan kabeh ora nganti keblangsak jalaran kalahan, ning sebalike mupangati tumrap wong akeh jalaran tawadhu, taqarub, seneng mirengaken pitutur sing becik, ngadohi sekabehing konflik utawa plekara sing bisa ndadekna konflik, ora doyan isyu, gosip, ghibah, apa maning fitnah.
Ewo semono, nek aturku kiye kurang bener ya nyuwun pangapurané panjenengan kabéh.
Friday, January 02, 2009
Beberapa Kegiatan Yang Terlewatkan
Diklat Sertifikasi Guru merupakan syarat pelengkap bagi guru yang tidak lulus portofolio. Tapi kelihatannya mereka yang bisa lulus portofolio memang jarang sekali. Kebanyakan ya ikut diklat. Sebenarnya pemerintah menyediakan uang makan dan transport yang cukup untuk seminggu ikut diklat, yaitu Rp.1.125.000,- Tapi uang itu tidak diterimakan kepada peserta diklat dan diganti dengan fasilitas menginap dan makan. Banyak juga ilmu yang didapat dari seminggu belajar dan nginep, juga tentu saja dapat menambah teman. Kebetulan aku bawa kamera digital dan temanku ada yang bawa laptop sehingga dapat membuat buku kenangan sederhana berisi foto dan alamat masing-masing peserta.
Belum lama tinggal di rumah, sudah harus ikut kegiatan bersama teman2 dari Sekolah untuk acara berlibur di Puncak. Ya lumayan ramai dan terhibur karena malam harinya digunakan untuk nyanyi-nyanyi, terutama nyanyi lagu-lagu Soneta kesenanganku.
Dari Puncak tidak langsung pulang ke Jakarta, tapi jalan-jalan dulu ke Bandung Kota cari oleh2. Jadilah aku beli oleh-oleh sekedarnya dari Toko Kartika Sari di Bandung.
Pulang dari Puncak, paginya langsung berangkat ke Purwokerto naik kereta Sawunggalih. Berangkat dari Stasiun Senen pukul 08.15 dan nyampai di Satasiun Purwokerto sekitar jam 15.00 Wib. Penumpang cukup padat. Aku sama istri yang biasanya naik kereta Purwojaya kali ini terpaksa naik Sawunggalih karena tidak tahu informasi kalau kereta Purwojaya sekarang berangkatnya dari Gambir lagi dan jadwal keberangkatannya dipercepat menjadi jam 05.40 yang sebelumnya jam 06.40.
Kegiatan di Purwoketo seperti biasanya di Runah Uti di Kutasari, jalan-jalan ke Moro, ketemu Mas Gino dan Indri, Unggul, dan sempat juga nengok Fatih anaknya Indri di rumah mertuanya di kompleks dosen Unsoed.
Balik ke Jakarta menggunakan travel Tri Kusuma, disebabkan tiket keeta Purwojaya sudah habis. Ya untung masih ada tempat duduk. Tinggal 2 di samping sopir. Wah, aku sama istri sampai nggak bisa tidur karena ngeri, sopirnya maunya ngebut terus,,,,,lain kali kalau naik travel milih di belakang atau di tengah aja. Itu juga kalau masih bisa milih. Kalau nggak ya terpaksa lah.
Akhirnya sampai juga di Jakarta Hari Senin, 29 Desember 2008 jam 07.30. Ya untung hari libur, sehingga aku nggak harus telat berangkat kerja. Aku kebagian diantar terakhir. Kami harus ikut nganterin dulu penumpang yang lainnya ke Rempoa dan Kalibata.
Saturday, November 29, 2008
Nonton Bareng "Laskar Pelangi"
Sebenarnya yang menarik bukan filmnya, tapi kali ini adalah tempatnya. Ya nonton bareng kali ini, yang diikuti oleh sebagian guru dan karyawan Medco Foundation beserta dengan keluarganya, disewakan sebuah studio film yang cukup bergengsi yaitu Blitz Megaplex. Sebuah gedung film yang berada di lantai 8 Grand Indonesia di jantung kota Jakarta, tepatnya di bekas bangunan Hotel Indonesia.Thursday, November 27, 2008
Ke Tanah Tingal

Monday, November 24, 2008
Jakarta Teacher Club XII
Sekedar diketahui, Teacher Club Jakarta adalah sebuah forum pendidikan yang secara periodik diselenggarakan bagi guru, pemerhati, dan praktisi pendidikan untuk belajar, berbagi pengalaman, dan tumbuh bersama dengan sebuah maksud memberikan pembelajaran bermutu.
Kali ini, diundang sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman adalah :
Mr.Oene Schreuder, M.Ed , (54 th),Education Consultant kelahiran Belanda yang menjadi dosen tamu di UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) Bonifasius Fian Falopi, (25 th), Education Consultant, yang pernah mengajar di SMA Marangkayu di pedalam Kalimantan, dan
Octavia Wuri Pratiwi, (23 th) seorang pengajar di Taman Bermain / Sekolah gratis bagi anak-anak tidak mampu di daerah Cinere, Depok.
Tema yang diusung kali ini adalah "Menuju Sekolah Berkualitas" seri ke 6 "Involving Community To Enhance Learning Quality"Narasumber yang berbagi pengalaman pertama adalah Bonifasius Fian Falopi, yang pernah mengajar di SMA Marangkayu di pedalaman Kalimantan. Sambil memperlihatkan foto-foto keadaan di sana, Fian menceritakan bagaimana keadaan murid, guru, dan masyarakat di sana. Guru dan murid harus berjalan kaki atau naik sepeda motor di atas jalan yang beraspal meleleh, sebutan untuk jalan yang masih asli tanah sehingga bila hujan maka jalananan bisa berubah menjadi sungai atau jalan berlumpur yang dalam.
Jadi betapa kondisi daerah menjadi kendala bagi terlaksananya proses belajar mengajar yang baik. Guru dan murid yang sering terlambat datang ke sekolah, dsb menjadi kendala yang banyak dihadapi. Tapi bagi Fian, ini merupakan tantangan yang harus dihadapi. Dia bisa merubah dengan mengajak guru-guru yang lainnya dan murid-muridnya bersemangat pergi ke sekolah. Caranya adalah dengan membuat mereka menjadi bagian dari masyarakat sekitar, merasa berguna bagi masyarakat sekitar. Maka dengan beberapa kali pertemuan dengan tokoh masyarakat setempat dan juga camat akhirnya masyarakat, pihak sekolah, dan pemerintah daerah setempat bahu-membahu mengeraskan jalan yang berlumpur. Juga murid-murid biasa dikerahkan untuk membersihkan pasar satu-satunya di daerah tsb yang biasanya kotor dan kumuh, juga mengajak guru yang lainnya dan murid-murid untuk menanam pohon-pohon buah dan tanaman hias di sekitar sekolah mereka. Hal ini rupanya juga merambah ke praktek toleransi beragama, di mana semua anak, tidak melihat latar belakang agamanya, terbiasa membersihkan tempat-tempat ibadah yang ada di sekitar sekolah mereka, baik masjid maupun gereja. Intinya adalah jadikan sekolah disamping sebagai tempat belajar, juga dapat menjadi tempat mengabdi kepada masyarakat sekitar. Sekolah menjadi School Social Responsibility.
Pembicara yang ke dua adalah Octavia Wuri Pratiwi, seorang gadis berusia 23 tahun, yang masih sangat muda yang beralamat di Meruyung, Depok (alamat lengkapnya saya simpan). Dia tidak mau menyebut tempatnya mengajar sebagai sekolah, tapi cukup disebut Taman Bermain. Ya, dia juga membawa foto2 tempat dia mengajar dan anak-anaknya. Tempatnya sangat sederhana. Di atas atap sekolah yang berupa asbes ada pohon nangka (kethewel) yang bila sudah masak lalu jatuh, maka menimpa atap sekolah dan bolong. Maka kalau sedang musim hujan, anak-anak yang masih usia TK/SD itu harus dipulangkan lebih awal karena gedung tempat bersekolahnya bocor. Sebenarnya kalau melihat fotonya si tidak pantas disebut gedung ya. Ya hanya semacam garasi mobil atau becak di kampung. Tapi Octavia Wuri Pratiwi tetap bersemangat untuk mengajar anak-anak dari golongan tidak mampu tersebut dengan gratis tanpa membayar sedikitpun. Ya rupanya masih ada juga relawan yang mulia seperti dia, ada tidak jauh dari kota Jakarta.
Oktavia juga berhasil menggerakkan dan memberdayakan masyarakat setempat, khususnya kaum wanita, untuk ikut menjadi tutor atau guru di sekolah tersebut. Ketika ditanya peserta yang lain, apa mereka mau, tidak mendapat imbalan? Ya mereka mau saja, karena disamping senang dapat memberikan ilmu kepada anak-anak kurang mampu, mereka juga sekaligus belajar menjadi guru/pendidik. Siapa tahu, suatu saat mereka juga bisa mengajar di sekolah yang lain yang mendapatkan imbalan. Sederhana. Tapi sangat mulia.
Pembicara yang terakhir adalah Mr.Oene Schreuder, M.Ed atau yang akrab dipanggil Pak Une. Lelaki umur 54 tahun yang asli Belanda ini rupanya lumayan fasih berbahasa Inggris dan juga Indonesia. Maka diapun membagi pengalamannya memakai dua bahasa itu berselang-seling. Sangat lancar jika memakai bahasa Inggris, tapi agak kagok jika memakai bahasa Indonesia. Tapi mungkin dia tahu, banyak di antara peserta yang kurang mengerti/bisa berbahasa Inggris, sehingga Beliau sering berusaha untuk menggunakan bahasa Indonesia, walaupun sedikit kagok. Ya namanya lidah Belanda.
Mr. Une banyak memaparkan kondisi pendidikan di Indonesia. Beliau lebih banyak menyoroti faktor-faktor mikro yang dihadapi oleh dunia pendidikan Indonesia. Meskipun sesekali juga dipancing oleh pertanyaan peserta hal-hal makro seperti halnya kurikulum, kebijakan pemerintah, dsb. Mr Une membawakan tema `The Parents' role in Education.
Menurut observasinya, gambaran fenomena pendidikan di masa sekarang adalah sebagai berikut:
* Artikel: "Sinetron kalahkan jam belajar masyarakat"
60% gedung sekolah di Indonesia dalam keadaan rusak ringan sampai roboh, berbahaya.
45 persen dari sekolah SD di Jawa belum punya listrik
Angka "Drop Out" atau "putus sekolah" tidak menunjukkan grafik menurun
Ancaman anak-anak lari ke Narkoba, karena tidak dapat pendidikan yang menyenangkan, hanya ada pendekatan teoritis
Frekuensi dan modus perkelahian pelajar makin mencemaskan (Geng Nero, dsb)
Prestasi (bukan angka kelulusan ) UAN makin menurun dan perlu ada konversi nilai
Menurut research FIP UNY : 42% anak SD mempunyai "kesulitan belajar" (bukan "learning disability'!)
Kepandaian matematika ada di urutan ke 38 dari 40 negara yang disurvey, berdasarkan catatan dari pengawas pendidikan dari Australia.
Ada banyak anak SMA yang tak berhasil untuk menjawab operasi perhitungan yang simple, atau tidak mampu menulis paragraph yang logis; siswa SMA tidak mampu mengidentifikasi gagasan pokok sebuah paragraph.
Konversasi sederhana dalam bahasa Inggris jadi "momok", walaupun tingkat kesulitan teori grammar di metode-metode SMP sudah mendekati tingkat universitas.
Orang tua semakin diberatkan dengan kompetisi sekolah favorit, bimbingan belajar yang mahal yang diperlukan untuk mempersiapkan anak muridnya.
Kurikulum semakin padat dan `maju' dari tingkat atas ke bawah; contoh kelas 3 SD IPS-Ekonomi, Kelas 1 SD IPS ; tes.
Penyelidikan menunjukkan bahwa anak Indonesia berkurang 10% di tes IQ di banding standar internasional, karena pola gizi kurang dan buruk.
Pasti kita cari sebab-sebab, dan secara spontan kita akan mengatakan bahwa penyebab utama rendahnya kualitas pendidikan adalah kurangnya DANA. Terus : jumlah murid di kelas terlalu banyak, gaji guru masih kurang mencukupi untuk hidup, kesadaran/pertanggungjawaban dari pihak orang tua belum cukup. Masih sering kita mendengar : "Saya memasrahkan saja anakku kepada pihak sekolah, asal dia lulus dan dapat ijasah".
Semua fakta ini dapat membuat kita pesimis dan pusing sampai kita tidak mau lagi memikirkan langkah-langkah untuk perubahan/perbaikan yang dibutuhkan
Tapi di dalam masalah2 ada peluang juga:ada kesempatan untuk bersinergi dengan semua pihak yang punya kaitan dengan pendidikan seperti: Staf Sekolah, Orang Tua Muris, Komite Sekolah, Masyarakat di sekitar sekolah, Dinas-Dinas, LSM-LSM, Perusahaan-Perusahaan.
Dengan upaya untuk mengatasi kekurangan, memperbaiki kondisi fisik sekolah, dan, last but not least:yang sangat diharapkan yaitu:membuka diskusi untuk inovasi pendidikan dan menerima masukan2 dan bantuan dari pihak luar sekolah.
Ini berarti, kita berangkat dari sisi optimis:sikap ini ditunjukkan oleh orang-orang yang masih mampu melihat titik terang dalam terowongan gelap dunia pendidikan kita.
Ungkapan bijak yang selalu mereka pegang adalah: "every cloud has a silver lining"
Kalau kita menonton film seperti "Laskar Pelangi", kita bisa mengambil hikmah dari cerita itu:"jangan pernah menyerah" dan : " kita di dunia ini hidup untuk memberikan sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya".
Pendidikan adalah peran kunci yang sangat penting untuk membangkitkan bangsa kita.
Contohnya: setelah Perang Dunia II Negara Jerman hancur total, tapi mereka bisa bangkit cepat dalam kurun waktu 15 tahun mereka sudah pulih, sebagai Negara yang paling maju di dunia (`Wirtschaftswunder')
Dan ini bukan karena surplus SDA atau SDM, justru tidak. Jerman bangkit karena pengetahuan/ilmu yang sudah tinggi sebelum perang, tidak hilang.
Kita lihat contoh-contoh lain seperti ini: semua Negara di era dan daerah post komunisme yang punya pendidikan berkualitas dapat berkembang dan bersaing di dunia global, walaupun start mereka dari titik nol. Ceko, Polandia, Hongaria,Rusia.
Contoh yang lain adalah Finlandia dan Jepang. Waktu Kaisar Hirohito menyaksikan kehancuran negaranya setelah bom atom, dia berkata: "Masih ada berapa orang guru yang hidup?" Beliau menyadari betul kepentingan pendidikan.
Mari, kita mulai menyibak tirai masa depan bangsa ini melalui pendidikan!
Mari kita buka pintu sekolah untuk seluruh pihak yang terkait dengan pendidikan!
Jangan menyerah sebelumnya, karena usaha-usaha yang disebut di bawah ini tidak membutuhkan dana besar, hanya semangat dari orang yang memperdulikan pendidikan!!
· Apa yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk meningkatkan kualitas pembelajaran?
Suport untuk anak-anak di rumah, terutama:
Berilah perhatian dengan bertanya tentang belajarnya anak di sekolah, sosialisasi dengan teman kelas, perasaan-perasaan anaknya.
Perhatikan pola gizi.
Perhatikan kesehatan, ritme seharian (aktivitas-tidur)
Beri ruang yang kondusif untuk belajar di rumah
Perhatikan, jangan terlalu banyak nonton TV dan main PS
Beri masukan untuk bermain, hobi, dan berekreasi yang sehat
Kurangi paksaan untuk mengikuti sekolah, kursus, les di luar jam sekolah
Tumbuhkan minat baca di dalam diri anak.
Beri support untuk mengerjakan PR; tapi PR adalah tanggung jawab anak.
Doronglah agar anak selalu pergi ke sekolah.
Jika anak mengadu tentang guru dan temannya, cek dulu kebenarannya.
Pertimbangkan yang matang untuk ikut bimbel/les
Pertimbangkan dengan baik tentang "kematangan anak TK yang mau masuk SD, karena dapat mempengaruhi kemajuan anak di sekolah SD selanjutnya.
· Relasi langsung dari Orang Tua murid dengan Guru, Kepala Sekolah, (Selain Lewat Komite Sekolah)
Hubungan baik, interest, dan support dari orang tua
Komunikasi secara rutin dengan wali kelas mengenai : perilaku, kemajuan, atau problem anaknya sendiri.
Adakan "Home Visit" dari wali kelas ke murid
Pertemuan regular antara guru-guru dan semua OT-murid untuk membahas program belajar sekolah dan untuk mengevaluasi prosesnya.
Adakan acara "open house" untuk OT (pentas seni budaya, agama, olah raga bersama, dll)
Beri kesempatan buat OT untuk berpartisipasi/bantu sekolah di kegiatan-kegiatan tertentu: missal, Bantu kelompok anak dengan kesulitan belajar, reading programme/perpustakaan, kegiatan ekskul, membantu TU, administrasi sekolah.
Ini semua adalah pemaparan yang disampaikan oleh Mr.Une dengan sedikit kesulitan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi kita dapat sangat jelas menangkap filosofi dan ilmu yang diberikan olehnya. Maka secara tulus ikhlas dan dengan kerendahan hati saya pun menyalami dan mengucapkan terima kasih kepada beliau.
