Saturday, January 02, 2010

"Gitu Aja Kok Repot"-nya Gus Dur

Sabtu, 2 Januari 2010 | 04:45 WIB

Abdul Munir Mulkhan

Pernyataan yang sering dipakai Gus Dur untuk mengomentari persoalan, sikap seseorang, atau lembaga, ”Gitu aja kok repot”, mengesankan sikap permisif. Mungkin itu pula komentarnya terhadap ribuan pelayat dan penziarah yang ingin mendekap makamnya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, orang seperti Gus Dur tentu mulus melewati berbagai sensor malaikat di alam kubur. Boleh jadi seloroh penuh makna itu merupakan kunci suksesnya juga di alam pascaduniawi ini.

Menjelang malam tiba saat matahari melangkah ke pintu peraduannya hari Rabu, 30 Desember 2009, Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden ke-4 RI, berpulang ke haribaan Allah, meninggalkan kita semua dalam labirin kehidupan tanpa ujung. Namun, seloroh dan canda guraunya yang selalu membuat pendengarnya tertawa lepas tercerahkan sehingga tak pernah lupa lelucon segarnya, bukan hanya karena lucu, tetapi juga karena penuh makna, akan selalu menyertai kita pada hari- hari menyusuri lorong tersebut. Tampak samar, tetapi jelas secercah cahaya di ujung labirin yang disulut Gus Dur itu bagaikan Sang Guru di depan ruang kelas yang sedang mengajar tentang kemanusiaan dan kebangsaan.

Begitulah, kenyelenehan Gus Dur sering melahirkan beragam tafsir yang keliru atau sama-sama benar ketika kata dan kalimat yang beliau pakai menerobos pemaknaan konvensional. Orang sering itu sebut sebagai perilaku ”wali” yang nyulayani adat (unik) atau tampilan manusia bukan hanya di maqam (tahapan sufi) tertinggi, tetapi juga melampaui maqomat.

Gus Dur dengan penuh percaya diri mengaku sebagai memiliki darah China, Dayak, Pasundan, Batak, darah segala suku dan etnis yang terasa aneh dan tidak masuk akal bagi banyak orang. Namun, itulah cara Gus Dur berempati dengan segala ragam budaya dan etnisitas, juga religiusitas. Tokoh puncak NU ini dengan enteng menyatakan kekagumannya kepada tradisi organisasi Muhammadiyah, akan mengembangkan tradisi itu saat berhadapan dengan aktivis gerakan ini tanpa kehilangan ke-NU-annya.

Syekh Siti Jenar

Wafatnya Gus Dur menyentak kita semua meski sudah cukup lama beliau sakit. Suasana itu membawa penulis menerawang ke masa pertama bertemu di sebuah hotel di kawasan Jalan Taman Siswa, Yogyakarta, sebelum Gus Dur menjabat Ketua PB NU. Kenangan ini menuntun penulis ke masa-masa bercanda di sekeliling meja kerja Gus Dur di kantor PB NU bersama Ahmad Dhani, Holland Taylor (CEO LibForAll), dan beberapa wartawan.

Cengkerama sesaat setelah LibForAll Foundation memberi penghargaan kepada si Raja Dewa, Ahmad Dhani, tiba-tiba disela pernyataan seorang teman, ”Gus, inilah orang yang memopulerkan kembali Syekh Siti Jenar!” sambil menunjuk dan menyebut nama penulis. Gus Dur berkata, ”Mas Mulkhan!” begitu Gus Dur memanggilku, ”dari garis ayah, saya ini keturunan Syekh Siti Jenar lho!” Saya pun segera menimpali, ”Wau, kalau begitu Gus Dur sesat!” setengah menghardik walaupun jujur saya sedikit khawatir menunggu reaksinya. ”Biar saja, gitu aja kok repot,” kata Gus Dur seperti tak peduli yang membuat kami semua tertawa lepas. Inilah keunikan sikap Gus Dur yang sulit dicari padanannya di negeri ini.

Beberapa tahun kemudian, penulis bertemu kembali dengan Gus Dur dalam seminar tentang Pancasila di Universitas Parahyangan, Bandung. Tiba gilirannya, Gus Dur menjelaskan bahwa dirinya adalah keturunan raja-raja Pasundan. Ketika seorang ahli sejarah Pasundan meragukan dan meminta informasi tentang referensi kebenaran pernyataan Gus Dur tersebut, dengan enteng Gus Dur menjawab bahwa sumbernya ialah Ki Juru Kunci. Mendengar penjelasan tersebut, peserta seminar pun tertawa lepas. Lebih lanjut, Gus Dur menjelaskan bahwa dirinya merupakan keturunan Kiai Kasan Besari dari Tegalsasi Ponorogo, guru sang pujangga Ronggowarsito.

Tak mau kalah dengan Gus Dur, penulis segera berkata, ”Jelek-jelek Gus, saya ini adalah cucu buyut Kiai Kasan Besari.” Mendengar itu, Gus Dur hanya berdehem kecil. Penulis melanjutkan, ”Jika Gus Dur bertanya apa buktinya, buktinya adalah Ki Juru Kunci.” Spontan Gus Dur berkata, ”Wah, yen ngono awake dewe iki sih sedulur, sih sedulur! (Wah, kalau begitu kita ini masih saudara/ keluarga!).”

Beberapa minggu kemudian muncul tulisan Gus Dur di sebuah harian ibu kota tentang Islam kebangsaan dan kemanusiaan. Dari Kiai Kasan Besari itu, urai Gus Dur dalam artikel itu, lahir generasi Islam kebangsaan dan kemanusiaan melalui dua alur, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dari alur NU lahir beberapa ulama besar yang menurunkan tokoh seperti Gus Dur sendiri. Sementara dari alur Muhammadiyah, menurut Gus Dur, menurunkan elite gerakan seperti Kahar Muzakkir, Syafii Ma’arif, dan penulis sendiri. Begitulah gaya Gus Dur menjelaskan nilai-nilai Pancasila dan Islam yang rumit menjadi sebuah kisah yang yang mudah dicerna, diingat, dan dipahami oleh semua kalangan.

Nasionalisme Islam yang humanis, toleran, dan pluralis, menurut Gus Dur, bisa dilacak dari kisah sejarah dan legenda tentang Kiai Kasan Besari tersebut. Itulah barangkali salah satu warisan paling berharga Gus Dur yang perlu dicermati dan dikembangkan.

”Selamat jalan, Gus!” Semoga kelak kita dipertemukan dalam perjamuan Tuhan di kampung surgawi. ”Gitu aja kok repot!”

Abdul Munir Mulkhan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Mantan Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah; Anggota Komnas HAM

Warisan Gus Dur

Sabtu, 2 Januari 2010 | 04:46 WIB

Jaya Suprana

Gus Dur telah tiada. Terlalu banyak kenangan dan pelajaran yang saya peroleh dari sahabat dan mahaguru yang sangat saya hormati, kagumi, dan cintai itu. Dari Gus Dur, saya mewarisi wawasan kearifan mengenai makna kenegaraan, keagamaan, dan kemanusiaan dalam hakikat yang murni dan sejati.

Saya terkenang bagaimana ketika menempuh perawatan hemodialisis akibat telah mencapai tahap gagal ginjal terminal, Gus Dur tampak selalu segar bugar, ceria, dan tetap bersemangat berkisah dirinya sempat resmi dituntut sebuah ormas untuk diadili dengan tuduhan menghina agama Islam lewat pernyataan bahwa Al Quran adalah kitab suci pornografis. Ketika saya menganggap tuduhan itu tidak benar, Gus Dur malah dalam gaya biarnisme nakal membantah: ”Biar saja, biar rame!”

Socrates

Gus Dur selalu mengingatkan saya kepada filsuf Yunani—tepatnya Athena— tersohor, Socrates, yang—menurut Plato— gemar melontarkan komentar-komentar humoristis yang sering keliru ditafsirkan sejumlah pihak tidak mau dan/atau tidak mampu memahami kandungan makna yang sebenarnya amat luhur.

Kini telah disepakati bahwa Socrates salah seorang filsuf terbesar yang pernah hidup di Planet Bumi ini dengan pengaruh signifikan terhadap pemikiran peradaban dan kebudayaan Barat. Namun, pada masa hidupnya menjelang akhir abad III sebelum Masehi, Socrates dicurigai, dicemooh, dikecam, dan dihina sebagai insan eksentrik suka bicara ngawur. Bahkan, akibat lontaran komentar yang keliru ditafsirkan, Socrates dituduh menghina agama dan lembaga penguasa hingga akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh dewan juri pengadilan kota Athena pada tahun 399 sebelum Masehi.

Sementara itu, di Indonesia, pada tahun 2001 setelah Masehi, akibat berbagai sikap, perilaku, dan komentar yang keliru ditafsirkan, Gus Dur memang tidak dihukum mati, tetapi dipaksa lengser dari jabatan Presiden oleh MPR dan DPR yang pada masa itu masih memiliki kekuasaan untuk dengan sangat mudah melengserkan presiden.

Semasa hidup, Socrates dibenci kaum penguasa kota Athena sebab terlalu lantang dan terlalu terbuka melempar kritik terhadap sikap dan perilaku demokrasi semu pemerintah Athena. Demikian pula pada masa rezim Orde Baru, Gus Dur juga dibenci mereka yang sedang berkuasa akibat ketua ormas Islam terbesar di dunia ini berani mengkritik kediktatoran penguasa Republik Indonesia. Begitu benci rezim Orba terhadap Gus Dur, sampai konon muncul instruksi rahasia untuk—sama dengan Socrates—membunuh Gus Dur, tetapi—beda dari Socrates—sebelum niat itu terlaksana, rezim Orba telanjur lengser.

Akibat aneka ragam komentar kontroversial, Socrates dibenci dewan perwakilan warga Athena. Sama halnya dengan Gus Dur jahil menyamakan para anggota DPR dengan murid TK sebagai penyulut sumbu kebencian DPR terhadap Presiden!

Plato

Di dalam apologi tersirat kekaguman Plato terhadap Socrates sebagai tokoh yang berani menyatakan yang benar sebagai benar, yang keliru sebagai keliru, dan berani mengambil langkah-langkah kontroversial demi mempersembahkan yang terbaik bagi rakyat Athena. Sama halnya dengan para tokoh cendekiawan dan budayawan nasional dan internasional yang kagum terhadap sosok Gus Dur yang selalu gigih maju tak gentar menerjang kemelut deru campur debu bepercik keringat, air mata, dan darah demi menegakkan kebenaran di bumi Indonesia.

Pada masa Orba, Gus Dur paling berani secara terbuka memprotes kezaliman pemerintah. Hanya Gus Dur yang berani secara terbuka membela Arswendo Atmowiloto ketika menjadi korban ketidakadilan. Hanya Gus Dur yang berani membela kaum minoritas tertindas di Indonesia masa Orba kemudian setelah menjadi Presiden nyata memperjuangkan hak-hak kaum minoritas!

Hanya Gus Dur yang sadar bahwa urusan sosial dan pers sebenarnya bukan urusan pemerintah tetapi masyarakat sendiri, maka membubarkan Departemen Sosial dan Departemen Penerangan. Namun— sama dengan nasib Socrates—perjuangan Gus Dur membela kemanusiaan dan menegakkan kebenaran di persada Nusantara sering tidak atau sulit dipahami masyarakat semasa hingga sering keliru ditafsirkan sebagai ulah negatif bahkan destruktif. Cuap-cuap Socrates menjengkelkan kaum penguasa kota Athena, sementara ceplas-ceplos Gus Dur ketika menjadi Presiden sangat ditakuti pimpinan Bank Indonesia sebab dianggap rawan mengguncang stabilitas moneter dan ekonomi nasional!

Sama dengan Socrates, Gus Dur semasa menjadi Presiden dituduh eksentrik, ngawur, bahkan membahayakan negara dan bangsa hingga akhirnya—meski tidak dibunuh seperti Socrates—dilengserkan dari jabatan kepala negara! Gus Dur layak masuk MURI sebagai orang yang paling sering dikelirutafsirkan, terbukti namanya saja sering disebut ”Pak Gus Dur” akibat keliru tafsir bahwa ”Gus Dur” sebuah nama, padahal istilah ”Gus” sebenarnya sebutan dialek Jawa Timur berbobot sudah sama terhormat dengan ”Pak”.

Warisan pesan

Dalam salah satu perjumpaan terakhir dengan sahabat dan mahaguru yang sangat saya hormati, kagumi, dan cintai, saya sempat bertanya mengenai apa sebenarnya yang keliru pada bangsa dan negara Indonesia pada masa kini. Gus Dur menghela napas sejenak lalu berkisah sebuah hadis Al Sukuni meriwayatkan dari Abu Abdillah Al Shadiq, ”Ketika Nabi Muhammad SAW menyambut pasukan sariyyah kembali setelah memenangkan peperangan, Beliau bersabda: ’Selamat datang wahai orang-orang yang telah melaksanakan jihad kecil tetapi masih harus melaksanakan jihad akbar!’ Ketika orang-orang terheran-heran lalu bertanya tentang makna sabda itu, Rasul SAW menjawab: ’Jihad kecil adalah perjuangan menaklukkan musuh. Jihad akbar adalah jihad Al-Nafs, perjuangan menaklukkan diri sendiri!”

Terima kasih dan selamat jalan, Gus Dur!

Selamat berjuang, bangsa Indonesia!

Jaya Suprana Sahabat dan Murid Gus Dur

Wednesday, March 04, 2009

Mlaku-Mlaku Olah Raga

The Beauty Of Live Doesn'tDepind On How Happy Yau are, But How Happy Others Because Of You.

Esuk-esuk bar jalan-jalan olah raga nang kompleks perumahan Tanjung Mas Raya, kompleks perumahane wong sing sugih-sugih, nang ndalan disodori brosur Mobil Toyota sekang Show Room Mobil Toyota sing nembe bae bukak nang Jl.Tanjung Barat Raya, Jakarta Selatan.

Lha sing menarik dudu gambar mobil-mobile utawa carane tuku mobil apa cash, kredir, apa tukar tambah, ning nang brosuré kuwe ana tempelane selembar kertas sing isine kaya kiye:

"Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang duda dengan 3 orang anak yang sudah menginjak dewasa. Dudua itu terbilang cukup kaya di desanya. Ia memiliki rumah, tanah, dan 19 ekor sapi. Suatu saat duda itu mengalami sakit keras, bahkan tipis harapan untuk sembuh. Merasa ajalnya sudah dekat, sang duda memanggil ke-3 anaknya untuk diberi wasiat berupa pembagian harta warisan terutama ke-19 sapinya.

Kepada anak sulung, sang ayah berpesan dia akan memperoleh 1/2 dari jumlah sapinya. Sedangkan anak yang kedua akan memperoleh 1/4 dari jumlah sapi, dan anak bungsu akan memperoleh 1/5 dari jumlah sapi yang duda itu miliki.Tak lama kemudian, duda itu pun meninggal dunia.

Setelah Bapaknya dimakamkan dan situasi mulai tenang, ketiga ahli waris itu pun mengadakan rapat guna membagi 19 ekor sapi peninggalan ayahnya tersebut. Ke-19 sapi tersebut dibagikan sesuai dengan amanat almarhum ayahnya., yakni 1/2 untuk anak sulung, 1/4 untuk anak ke-2, dan 1/5 untuk si bungsu. Akan tetapi mereka barub sadar bahwa hasil pembagian ternyata tidak utuh. Dari hasil pembagian tersebut, anak sulung menerima 9 1/2 sapi, anak kedua menerima 4 3/4, dan si bungsu menerima 3,8 sapi.

Mereka menjadi bingung. Tidak tahu bagaimana cara membagi sapi-sapi itu. dalam kebingungan itulah, ego mereka masing-masing muncul. Semua menginginkan sapi diterima utuh tanpa ada yang dipotong-potong. si sulung menuntut lebih, mengingat dia adalah pewaris utama, sementara adik-adiknya yang lain pun tentu tidak mau mengalah.

Tidak jauh dari rumah mereka sebenarnya tinggal paman mereka yang tergolong miskin. Tidak mempunyai banyak tanah dan hanya memiliki seekor sapi warisan dari ayahnya dulu. Itu pun sudah sangat kurus dan tidak terawat.

Akibat kehidupannya yang miskin itulah, sang paman hampir tidak pernah diperhatikan oleh keluarga almarhum duda kaya itu, apalagi perhatiandari ketiga keponakannya. Namun demikian, berita mengenai pertentangan ketiga keponakannya dalam membagi 19 sapi tersebut sampai juga ke telinganya.

Setelah mengetahui titik permasalahannya, dengan hati yang tulus dia berkata kepada ketiga keponakannya itu, "Ambillah sapi paman yang satu-satunya ini, mungkin berguna untuk memecahkan masalah kalian bertiga!"

"Wah ide yang bagus.Kalau begitu sekalian saja paman yang membaginya untuk kami, supaya adil!" sahut si sulung dengan mantap.

Dengan senang hati, sang paman pun bersedia untk membantu membagi sapi warisan itu. Ditambah satu sapi miliknya,jumlah sapi sekarang menjadi 20 ekor. Sesuai dengan porsi pembagian yang telah diwasiatkan sang ayah, maka si sulung memperoleh 10 ekor sapi (1/2 dari 20), adiknya yang nomor dua mendapatkan 5 ekor (1/4 dari 20), dan si bungsu memperoleh 4 ekor (1/5 dari 20).

"Apakah kalian puas dan merasa adil dengan apa yang kalian terima?" tanya sang paman. "Sangat puas paman!" sahut ketiga keponakannya.
"Sesuai wasiat ayah kalian, sekarang masing-masing sudah mendapat 10,5, dan 4 ekor sapi. Jadi total jumlah sapi yang dibagi ada 19 ekor, sedangkan sapi yang ada adalah 20 ekor. Berarti ada sisa satu lagi. Nah, yang satu ekor ini paman bawa pulang lagi ya!" pinta paman mereka dengan tersenyum. (Pamane kaya Abunawas apa ya?)

Sekedar kisah untuk panduan pemilu 2009. Kriteria pemimpin kurang lebih seperti karakter "paman" pada cerita di atas, antara lain solutif dan rela berkorban. Menurut Anda? Sing liane anu iklan,,,,ora tek tulis nang kene.

Inyong mung lagi bingung campur mengen. Wektu sapiné 19, dibagi ora dadi, pating prenthil. Ning baring sapiné 20 koh dadi pas. jaaan,,,uwis kaya kuwe, sapi sing dibagi warisan ya kur 19,,,,,Kepriwe kuwe jajal?

Tuesday, January 27, 2009

Wani Ngalah Luhur Wekasané?

Jaman gemiyen, wong tuwa-tuwa cokan rengeng-rengeng (nembang Jawa), oniné kaya kiyé:
Dedalané guno lawan yekti,Kudu andap asor,Wani ngalah luhur wekasané,Tumungkulo yén dipun dukani,Bapang dén simpangi,Ana catur mungkur.

Laguné kepénak dirungokna. Apamaning goli rengeng-rengeng wektuné sore, suasané udan ngrecéh. Goli rengeng-rengeng karo ngemban putuné. Agi inyong esih cilik tah ora patia nggatekna isi utawa makna tembang mau kejaba suarané wong tuwa mau sing pancen kepenak derungokna.

Ning bareng Inyong maju gedhé, sok mikir, kayané ana sing kurang pas goli maknani tembang mau. Ora jumbuh utawa ora pas karo kersané sing nganggit.
Inyong pribadi nganggep, nek "lirik" tembang mau "bernuansa" Islami. Ning jalaran ana sing penafsirané ora nganggo cara Islam, mulané kasilé cokan "kontradiksi" karo cita-cita Islam rahmatan lil 'alamin.Magé jajal mayuh ditafsirna unggal baris. Inyong nafsir nganggo ngelmuku sing mung saipet, panjenengan pada mbok kagungan pinemu sing liya, sing lewis maen lan pas, nggih mangga pada urun rembug.

Jajal mayuh dipirsani:

Dedalané guna lawan yekti, ngemu teges : dadi wong angger kepéngin mupangati kanggo wong akéh lan kajén.Kudu (gelem) andap asor.Andap asor kuwe angger diteropong nganggo kacamata Islam ya kurang lewiéh tawadhu. Kenangapa tawadhu? Wong sing tawadhu kuwe ngrasa esih akeh kekurangané, mulané kanggo nggenepi kekurangané mau, banjur gelem utawa sregep ngangsu kawruh. Angger wong sing pinter, lewih seneng mbagi kawruhe maring wong sing "mara/mjaluk" kanthi andap asor. Angger wong sing angkuh, sombong, utawa takabur biasané kurang disenengi. Apa maning mbagi ilmuné, kenal bae madan bebeh.

Wani ngalah luhur wekasane

Lha baris sing siji kiyé sing cokan salah penafsiran. Dadi pengamalané ora cocog karo kersané sing nganggit tembang kiyé. Biasané ditafsirna kaya kiye: nek gelem ngalah (ora nglawan) ujaré dadi luhur wekasané. Apa iya? jajal mayuh nggolet berita nang koran. Ana kabar transmigran (jawa) sing mataun-taun ngolah tanah, asalé tanah cengkar/tandus wis dadi subur, siki kudu ngalah ninggalna tanah garapané jalaran diklaim nang penduduk asli lan dianggep tanah nenek moyangé. wong-wong mau pada njaluk lahan sekang petani transmigran. Wong jawa ngalah. terus nggelandang maring endi baé nggolet rejeki.

Lha sekang conto mau nyata nek wani ngalah, ora kuhur wekasané. Jalaran kuwe tafsiran sing luput utawa keliru. Banjur tafsir sing bener sing kaya ngapa? Tumrapé Inyong sing demaksud wani ngalah nang konteks kiye kuwe ditafsir "Wani Ing Allah. Mengko disit, aja giri-giri takon, lho deneng si wani ing Allah. Wani nang kene kuwe mangsude dudu ateges nglawan Gusti Allah, utawa ingkar, nanging wani mérek maring Allah. Taqarub. Wong nek uripé taqarub maring Allah, mesthi luhur alias ora nistha.

Tumungkulo yen dipun dukani.

Kawit jaman Inyong cilik nganti semene gedhene, nduwe penganggep, sapa sing ndukani mesthi ngemu pitutur kanggo sing didukani. Apa sebabe? Jalaran sing ndukani ngersakaken, sing didukani kelakuané lewih becik, apik, saenggo ora gawe keluputan anyar utawa mbaleni keluputan sing uwis-uwis. Tembang mau ngongkon Inyong lan panjenengan kabeh tumungkul mirengaken lan migatekaken.

Bapang dén simpangi.

Tegesé, sekabehe sing bakal ndadekna rubeda utawa konflik kudu diindari. Aja ngorobi utawa ngompori. Sebisa-bisa nggolet persamaané aja digolet perbedaané. Simpangi, ora ngemu teges pengecut, ning usaha kanggo nggolet paseduluran, dudu permusuhan.
Ana Catur Mungkur
Catur nang kene bisa mengku teges "pengendikan sing ora produktif". Ora produktif sing dimaksud kuwe bisa awujud isyu, gosip, ghibah,utawané fitnah. Umumé catur nuansane provokatif. Mulane kudu mungkur. Mungkur dudu asal mungkur, ning kudu dimaknai Tabayun utawa klarifikasi.

Mulane karo tafsir mau moga-moga Inyong lan panjenengan kabeh ora nganti keblangsak jalaran kalahan, ning sebalike mupangati tumrap wong akeh jalaran tawadhu, taqarub, seneng mirengaken pitutur sing becik, ngadohi sekabehing konflik utawa plekara sing bisa ndadekna konflik, ora doyan isyu, gosip, ghibah, apa maning fitnah.
Ewo semono, nek aturku kiye kurang bener ya nyuwun pangapurané panjenengan kabéh.

Friday, January 02, 2009

Beberapa Kegiatan Yang Terlewatkan

Ada beberapa kegiatan yang luput ditulis di blog ini, yaitu kegiatan Diklat Sertifikasi Guru di SLB Pembina Lebak Bulus, Jakarta Selatan pada tanggal 13 sd 20 Desember 2008, kemudian tour dan menginap di Puncak bersama teman-teman pada malam Natal tanggal 24 Desember2008, serta pulang kampung ke Purwokerto pada tanggal 25 sd 29 Desember 2008.

Diklat Sertifikasi Guru merupakan syarat pelengkap bagi guru yang tidak lulus portofolio. Tapi kelihatannya mereka yang bisa lulus portofolio memang jarang sekali. Kebanyakan ya ikut diklat. Sebenarnya pemerintah menyediakan uang makan dan transport yang cukup untuk seminggu ikut diklat, yaitu Rp.1.125.000,- Tapi uang itu tidak diterimakan kepada peserta diklat dan diganti dengan fasilitas menginap dan makan. Banyak juga ilmu yang didapat dari seminggu belajar dan nginep, juga tentu saja dapat menambah teman. Kebetulan aku bawa kamera digital dan temanku ada yang bawa laptop sehingga dapat membuat buku kenangan sederhana berisi foto dan alamat masing-masing peserta.

Belum lama tinggal di rumah, sudah harus ikut kegiatan bersama teman2 dari Sekolah untuk acara berlibur di Puncak. Ya lumayan ramai dan terhibur karena malam harinya digunakan untuk nyanyi-nyanyi, terutama nyanyi lagu-lagu Soneta kesenanganku.

Dari Puncak tidak langsung pulang ke Jakarta, tapi jalan-jalan dulu ke Bandung Kota cari oleh2. Jadilah aku beli oleh-oleh sekedarnya dari Toko Kartika Sari di Bandung.

Pulang dari Puncak, paginya langsung berangkat ke Purwokerto naik kereta Sawunggalih. Berangkat dari Stasiun Senen pukul 08.15 dan nyampai di Satasiun Purwokerto sekitar jam 15.00 Wib. Penumpang cukup padat. Aku sama istri yang biasanya naik kereta Purwojaya kali ini terpaksa naik Sawunggalih karena tidak tahu informasi kalau kereta Purwojaya sekarang berangkatnya dari Gambir lagi dan jadwal keberangkatannya dipercepat menjadi jam 05.40 yang sebelumnya jam 06.40.

Kegiatan di Purwoketo seperti biasanya di Runah Uti di Kutasari, jalan-jalan ke Moro, ketemu Mas Gino dan Indri, Unggul, dan sempat juga nengok Fatih anaknya Indri di rumah mertuanya di kompleks dosen Unsoed.

Balik ke Jakarta menggunakan travel Tri Kusuma, disebabkan tiket keeta Purwojaya sudah habis. Ya untung masih ada tempat duduk. Tinggal 2 di samping sopir. Wah, aku sama istri sampai nggak bisa tidur karena ngeri, sopirnya maunya ngebut terus,,,,,lain kali kalau naik travel milih di belakang atau di tengah aja. Itu juga kalau masih bisa milih. Kalau nggak ya terpaksa lah.

Akhirnya sampai juga di Jakarta Hari Senin, 29 Desember 2008 jam 07.30. Ya untung hari libur, sehingga aku nggak harus telat berangkat kerja. Aku kebagian diantar terakhir. Kami harus ikut nganterin dulu penumpang yang lainnya ke Rempoa dan Kalibata.

Saturday, November 29, 2008

Nonton Bareng "Laskar Pelangi"

Sebenarnya yang menarik bukan filmnya, tapi kali ini adalah tempatnya. Ya nonton bareng kali ini, yang diikuti oleh sebagian guru dan karyawan Medco Foundation beserta dengan keluarganya, disewakan sebuah studio film yang cukup bergengsi yaitu Blitz Megaplex. Sebuah gedung film yang berada di lantai 8 Grand Indonesia di jantung kota Jakarta, tepatnya di bekas bangunan Hotel Indonesia.

Pada kesempatan tersebut hadir pembina Medco Foundation Ibu Yani Yuhani Rodyat Panigoro yang juga komisaris Medco Groups.


Acara nonton bareng kali ini memang beda karena tidak dilakukan bersama-sama dengan penonton lainnya, tetapi menyewa salah satu studio megaplex. Sehingga pada hari Sabtu, 29 November 2008 tersebut, nonton bareng dilaksanakan pada pukul 09.30 sd 11.00 Wib.


Kalau saya sendiri sebetulnya sudah nonton film Laskar Pelangi ini dua kali. Yang pertama di Atrium 21 Senen, terus di 21 Cilandak Town Square (CITOS). Yang terakhir ini juga merupakan acara nonton bersama dengan teman-teman sekolah Avicenna.


Tapi anak dan istri belum sempat nontong, jadinya ya klop banget. Acara nonton bareng Medco Foundation rasanya menjadi acara yang pas. Moga-moga aja acara seperti ini akan terus dilakukan. Dalam rangka menambah wawasan, juga mengakrabkan diantara sesama guru dan karyawan.

Thursday, November 27, 2008

Ke Tanah Tingal


Hari Rabu, 26 November 2008, pergi ke tanah tingal di Ciputat, Tangerang Prop.Banten. Naik truk yang biasa untuk membawa pasukan tentara (PPRC) dari salah satu kesatuan yang bermarkas di Cijantung. Perjalanan sekitar satu jam dari Tanjung Barat. Diiringi gerimis rintik-rintik, perjalanan cukup mengasyikan dan sejam kemudian sampai di tempat acara.


Tanah Tingal, adalah sebuah tempat seluas kurang lebih 13 ha, yang dimiliki oleh Keluarga Budiharjo (mantan Dubes dan menteri penerangan pada masa Orde Baru. Tempat ini biasa digunakan untuk acara-acara outing maupun outbond. Tersedia lapangan untuk mendirikan tenda,ruang pertemuan, kolam renang, dapur, mushala dan bangunan untuk kamar besar ber AC yang berisi puluhan ranjang susun untuk menampung banyak peserta. Kegiatan yang dilakukan diantaranya Witegame, flying fox, jalan-jalan santai, rapat, dsb. Tempatnya alami karena tanah terbukja tersebut banyak ditanami pohon-pohon besar seperti beringin dan juga tanaman-tanaman semacam anthurium di dalam pot-pot.


Kami membuat acara untuk anak-anak SD dengan jumlah siswa sekitar 300 anak dari kelas I sd 6. Untuk kelas 1 sd 3, acara dilakukan dari pagi sampai siang, sementara untuk kelas 4 sd 6 acara berlangsung dari siang sampai malam. Kami menginap semalam di sana. Pada saat acara, kami sempat ditemui oleh pemilik tempat yaitu Ibu Budiarjo yang sudah berumur 80 tahun.

Mempunyai putra 6, banyak cucu, dan sudah punya cicit.


Acara berlangsung dengan baik, hanya sayang selama kegiatan selelu saja diiringi hujan rintik-rintik. Sehingga rencana untuk tidur di tenda tentarapun batal karena alas tempat tidurnya basah. Akhirnya kami banyak yang pindah tidur di kamar yang besar tadi. Pulang ke Tanjung Barat sekitar jam 10 siang, jam 14.00 menuju sroto langganan Pak Irsyad di Jl.Dewi Sartika (depan sekolah Marsudirini). Makan satu mangkok yang isinya cukup banyak dan mengenyangkan banget. Dagingnya banyak dan kuahnya buket banget. Pulangnya juga dibawain satu porsi sroto sokaraja yang. Begitu mau bayar, Pak Irsyad menolak. Wis ora usah bayar,,,,nggo olih2 bojomu kon melu ngrasakna enake sroto Sokaraja Pak Irsyad. Dadi ora jere-jere maning.






Monday, November 24, 2008

Jakarta Teacher Club XII

Kemarin, Hari Rabu, 5 November 2008 sekitar pukul 13.00 sd 17.00 saya berkesempatan menimba ilmu dengan mengikuti pertemuan Teacher Club XVII Jakarta yang diadakan di Flamboyan Room Lt.6 Gedung Jakarta Design Center (JDC), Jl. S.Parman Kav.53-54, Slipi, Jakarta Barat. Acara diikuti oleh sekitar 300 orang perwakilan dari berbagai sekolah baik negeri maupun swasta, lembaga2 riset pendidikan, pemerhati serta praktisi pendidikan se Jabodetabek.
Sekedar diketahui, Teacher Club Jakarta adalah sebuah forum pendidikan yang secara periodik diselenggarakan bagi guru, pemerhati, dan praktisi pendidikan untuk belajar, berbagi pengalaman, dan tumbuh bersama dengan sebuah maksud memberikan pembelajaran bermutu.
Kali ini, diundang sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman adalah :
Mr.Oene Schreuder, M.Ed , (54 th),Education Consultant kelahiran Belanda yang menjadi dosen tamu di UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) Bonifasius Fian Falopi, (25 th), Education Consultant, yang pernah mengajar di SMA Marangkayu di pedalam Kalimantan, dan
Octavia Wuri Pratiwi, (23 th) seorang pengajar di Taman Bermain / Sekolah gratis bagi anak-anak tidak mampu di daerah Cinere, Depok.

Tema yang diusung kali ini adalah "Menuju Sekolah Berkualitas" seri ke 6 "Involving Community To Enhance Learning Quality"Narasumber yang berbagi pengalaman pertama adalah Bonifasius Fian Falopi, yang pernah mengajar di SMA Marangkayu di pedalaman Kalimantan. Sambil memperlihatkan foto-foto keadaan di sana, Fian menceritakan bagaimana keadaan murid, guru, dan masyarakat di sana. Guru dan murid harus berjalan kaki atau naik sepeda motor di atas jalan yang beraspal meleleh, sebutan untuk jalan yang masih asli tanah sehingga bila hujan maka jalananan bisa berubah menjadi sungai atau jalan berlumpur yang dalam.

Jadi betapa kondisi daerah menjadi kendala bagi terlaksananya proses belajar mengajar yang baik. Guru dan murid yang sering terlambat datang ke sekolah, dsb menjadi kendala yang banyak dihadapi. Tapi bagi Fian, ini merupakan tantangan yang harus dihadapi. Dia bisa merubah dengan mengajak guru-guru yang lainnya dan murid-muridnya bersemangat pergi ke sekolah. Caranya adalah dengan membuat mereka menjadi bagian dari masyarakat sekitar, merasa berguna bagi masyarakat sekitar. Maka dengan beberapa kali pertemuan dengan tokoh masyarakat setempat dan juga camat akhirnya masyarakat, pihak sekolah, dan pemerintah daerah setempat bahu-membahu mengeraskan jalan yang berlumpur. Juga murid-murid biasa dikerahkan untuk membersihkan pasar satu-satunya di daerah tsb yang biasanya kotor dan kumuh, juga mengajak guru yang lainnya dan murid-murid untuk menanam pohon-pohon buah dan tanaman hias di sekitar sekolah mereka. Hal ini rupanya juga merambah ke praktek toleransi beragama, di mana semua anak, tidak melihat latar belakang agamanya, terbiasa membersihkan tempat-tempat ibadah yang ada di sekitar sekolah mereka, baik masjid maupun gereja. Intinya adalah jadikan sekolah disamping sebagai tempat belajar, juga dapat menjadi tempat mengabdi kepada masyarakat sekitar. Sekolah menjadi School Social Responsibility.
Pembicara yang ke dua adalah Octavia Wuri Pratiwi, seorang gadis berusia 23 tahun, yang masih sangat muda yang beralamat di Meruyung, Depok (alamat lengkapnya saya simpan). Dia tidak mau menyebut tempatnya mengajar sebagai sekolah, tapi cukup disebut Taman Bermain. Ya, dia juga membawa foto2 tempat dia mengajar dan anak-anaknya. Tempatnya sangat sederhana. Di atas atap sekolah yang berupa asbes ada pohon nangka (kethewel) yang bila sudah masak lalu jatuh, maka menimpa atap sekolah dan bolong. Maka kalau sedang musim hujan, anak-anak yang masih usia TK/SD itu harus dipulangkan lebih awal karena gedung tempat bersekolahnya bocor. Sebenarnya kalau melihat fotonya si tidak pantas disebut gedung ya. Ya hanya semacam garasi mobil atau becak di kampung. Tapi Octavia Wuri Pratiwi tetap bersemangat untuk mengajar anak-anak dari golongan tidak mampu tersebut dengan gratis tanpa membayar sedikitpun. Ya rupanya masih ada juga relawan yang mulia seperti dia, ada tidak jauh dari kota Jakarta.

Oktavia juga berhasil menggerakkan dan memberdayakan masyarakat setempat, khususnya kaum wanita, untuk ikut menjadi tutor atau guru di sekolah tersebut. Ketika ditanya peserta yang lain, apa mereka mau, tidak mendapat imbalan? Ya mereka mau saja, karena disamping senang dapat memberikan ilmu kepada anak-anak kurang mampu, mereka juga sekaligus belajar menjadi guru/pendidik. Siapa tahu, suatu saat mereka juga bisa mengajar di sekolah yang lain yang mendapatkan imbalan. Sederhana. Tapi sangat mulia.
Pembicara yang terakhir adalah Mr.Oene Schreuder, M.Ed atau yang akrab dipanggil Pak Une. Lelaki umur 54 tahun yang asli Belanda ini rupanya lumayan fasih berbahasa Inggris dan juga Indonesia. Maka diapun membagi pengalamannya memakai dua bahasa itu berselang-seling. Sangat lancar jika memakai bahasa Inggris, tapi agak kagok jika memakai bahasa Indonesia. Tapi mungkin dia tahu, banyak di antara peserta yang kurang mengerti/bisa berbahasa Inggris, sehingga Beliau sering berusaha untuk menggunakan bahasa Indonesia, walaupun sedikit kagok. Ya namanya lidah Belanda.

Mr. Une banyak memaparkan kondisi pendidikan di Indonesia. Beliau lebih banyak menyoroti faktor-faktor mikro yang dihadapi oleh dunia pendidikan Indonesia. Meskipun sesekali juga dipancing oleh pertanyaan peserta hal-hal makro seperti halnya kurikulum, kebijakan pemerintah, dsb. Mr Une membawakan tema `The Parents' role in Education.
Menurut observasinya, gambaran fenomena pendidikan di masa sekarang adalah sebagai berikut:
* Artikel: "Sinetron kalahkan jam belajar masyarakat"
60% gedung sekolah di Indonesia dalam keadaan rusak ringan sampai roboh, berbahaya.
45 persen dari sekolah SD di Jawa belum punya listrik
Angka "Drop Out" atau "putus sekolah" tidak menunjukkan grafik menurun
Ancaman anak-anak lari ke Narkoba, karena tidak dapat pendidikan yang menyenangkan, hanya ada pendekatan teoritis
Frekuensi dan modus perkelahian pelajar makin mencemaskan (Geng Nero, dsb)
Prestasi (bukan angka kelulusan ) UAN makin menurun dan perlu ada konversi nilai
Menurut research FIP UNY : 42% anak SD mempunyai "kesulitan belajar" (bukan "learning disability'!)
Kepandaian matematika ada di urutan ke 38 dari 40 negara yang disurvey, berdasarkan catatan dari pengawas pendidikan dari Australia.
Ada banyak anak SMA yang tak berhasil untuk menjawab operasi perhitungan yang simple, atau tidak mampu menulis paragraph yang logis; siswa SMA tidak mampu mengidentifikasi gagasan pokok sebuah paragraph.
Konversasi sederhana dalam bahasa Inggris jadi "momok", walaupun tingkat kesulitan teori grammar di metode-metode SMP sudah mendekati tingkat universitas.
Orang tua semakin diberatkan dengan kompetisi sekolah favorit, bimbingan belajar yang mahal yang diperlukan untuk mempersiapkan anak muridnya.
Kurikulum semakin padat dan `maju' dari tingkat atas ke bawah; contoh kelas 3 SD IPS-Ekonomi, Kelas 1 SD IPS ; tes.
Penyelidikan menunjukkan bahwa anak Indonesia berkurang 10% di tes IQ di banding standar internasional, karena pola gizi kurang dan buruk.

Pasti kita cari sebab-sebab, dan secara spontan kita akan mengatakan bahwa penyebab utama rendahnya kualitas pendidikan adalah kurangnya DANA. Terus : jumlah murid di kelas terlalu banyak, gaji guru masih kurang mencukupi untuk hidup, kesadaran/pertanggungjawaban dari pihak orang tua belum cukup. Masih sering kita mendengar : "Saya memasrahkan saja anakku kepada pihak sekolah, asal dia lulus dan dapat ijasah".
Semua fakta ini dapat membuat kita pesimis dan pusing sampai kita tidak mau lagi memikirkan langkah-langkah untuk perubahan/perbaikan yang dibutuhkan

Tapi di dalam masalah2 ada peluang juga:ada kesempatan untuk bersinergi dengan semua pihak yang punya kaitan dengan pendidikan seperti: Staf Sekolah, Orang Tua Muris, Komite Sekolah, Masyarakat di sekitar sekolah, Dinas-Dinas, LSM-LSM, Perusahaan-Perusahaan.
Dengan upaya untuk mengatasi kekurangan, memperbaiki kondisi fisik sekolah, dan, last but not least:yang sangat diharapkan yaitu:membuka diskusi untuk inovasi pendidikan dan menerima masukan2 dan bantuan dari pihak luar sekolah.
Ini berarti, kita berangkat dari sisi optimis:sikap ini ditunjukkan oleh orang-orang yang masih mampu melihat titik terang dalam terowongan gelap dunia pendidikan kita.

Ungkapan bijak yang selalu mereka pegang adalah: "every cloud has a silver lining"
Kalau kita menonton film seperti "Laskar Pelangi", kita bisa mengambil hikmah dari cerita itu:"jangan pernah menyerah" dan : " kita di dunia ini hidup untuk memberikan sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya".
Pendidikan adalah peran kunci yang sangat penting untuk membangkitkan bangsa kita.
Contohnya: setelah Perang Dunia II Negara Jerman hancur total, tapi mereka bisa bangkit cepat dalam kurun waktu 15 tahun mereka sudah pulih, sebagai Negara yang paling maju di dunia (`Wirtschaftswunder')

Dan ini bukan karena surplus SDA atau SDM, justru tidak. Jerman bangkit karena pengetahuan/ilmu yang sudah tinggi sebelum perang, tidak hilang.
Kita lihat contoh-contoh lain seperti ini: semua Negara di era dan daerah post komunisme yang punya pendidikan berkualitas dapat berkembang dan bersaing di dunia global, walaupun start mereka dari titik nol. Ceko, Polandia, Hongaria,Rusia.
Contoh yang lain adalah Finlandia dan Jepang. Waktu Kaisar Hirohito menyaksikan kehancuran negaranya setelah bom atom, dia berkata: "Masih ada berapa orang guru yang hidup?" Beliau menyadari betul kepentingan pendidikan.

Mari, kita mulai menyibak tirai masa depan bangsa ini melalui pendidikan!
Mari kita buka pintu sekolah untuk seluruh pihak yang terkait dengan pendidikan!
Jangan menyerah sebelumnya, karena usaha-usaha yang disebut di bawah ini tidak membutuhkan dana besar, hanya semangat dari orang yang memperdulikan pendidikan!!
· Apa yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk meningkatkan kualitas pembelajaran?
Suport untuk anak-anak di rumah, terutama:
Berilah perhatian dengan bertanya tentang belajarnya anak di sekolah, sosialisasi dengan teman kelas, perasaan-perasaan anaknya.
Perhatikan pola gizi.
Perhatikan kesehatan, ritme seharian (aktivitas-tidur)
Beri ruang yang kondusif untuk belajar di rumah
Perhatikan, jangan terlalu banyak nonton TV dan main PS
Beri masukan untuk bermain, hobi, dan berekreasi yang sehat
Kurangi paksaan untuk mengikuti sekolah, kursus, les di luar jam sekolah
Tumbuhkan minat baca di dalam diri anak.
Beri support untuk mengerjakan PR; tapi PR adalah tanggung jawab anak.
Doronglah agar anak selalu pergi ke sekolah.
Jika anak mengadu tentang guru dan temannya, cek dulu kebenarannya.
Pertimbangkan yang matang untuk ikut bimbel/les
Pertimbangkan dengan baik tentang "kematangan anak TK yang mau masuk SD, karena dapat mempengaruhi kemajuan anak di sekolah SD selanjutnya.
· Relasi langsung dari Orang Tua murid dengan Guru, Kepala Sekolah, (Selain Lewat Komite Sekolah)
Hubungan baik, interest, dan support dari orang tua
Komunikasi secara rutin dengan wali kelas mengenai : perilaku, kemajuan, atau problem anaknya sendiri.
Adakan "Home Visit" dari wali kelas ke murid
Pertemuan regular antara guru-guru dan semua OT-murid untuk membahas program belajar sekolah dan untuk mengevaluasi prosesnya.
Adakan acara "open house" untuk OT (pentas seni budaya, agama, olah raga bersama, dll)
Beri kesempatan buat OT untuk berpartisipasi/bantu sekolah di kegiatan-kegiatan tertentu: missal, Bantu kelompok anak dengan kesulitan belajar, reading programme/perpustakaan, kegiatan ekskul, membantu TU, administrasi sekolah.
Ini semua adalah pemaparan yang disampaikan oleh Mr.Une dengan sedikit kesulitan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi kita dapat sangat jelas menangkap filosofi dan ilmu yang diberikan olehnya. Maka secara tulus ikhlas dan dengan kerendahan hati saya pun menyalami dan mengucapkan terima kasih kepada beliau.

Tuesday, July 08, 2008

Liburan Kenaikan Kelas Anaku

Alhamdulilah anakku Naufal naik ke kelas 3 dengan nilai yang baik dan memuaskan,,,,maka liburanpun diisi dengan jalan-jalan di kota kelahiranku, Purwokerto.

Berangkat dari Jakarta sekitar jam 05.45 Wib langsung menuju Purwokerto lewat jalur utara. Berangkat berenam yaitu Aku, Naufal (anaku), Esti (istri), Evan (Adik ipar), Nani (istri Evan), dan Mertua perempuan. Naik mobil Suzuki APV Arena tahun 2008, terasa sesak juga, karena bangku terisi semua. Aku di depan bersama Evan yang jadi Pak Sopir, Istri, Nani, dan Ibu di bangku tengah, sedangkan Naufal anaku di bangku belakang. Dua bangku digulung ke depan untuk tempat barang-barang dan pakaian ganti selama di Purwokerto.

Berhenti beberapa kali untuk sekedar buang air kecil dan di bribes untuk membeli telor asin langganan mertua. Sampai di Purwokerto kurang lebih jam 14.00. Kami istirahat makan siang dulu di Rumah Makan Nusantara masakan Padang di sebelah SMA 4 Purwokerto. Dulu tahun 86, waktu aku masih sekolah di Pwt, rumah makan ini jelas belum ada. Wah sekarang rumah makan segede rumah makan padang sederhana di Jakarta ternyata sudah ada di Purwokerto. Masakannya pun tidak jauh berbeda dengan masakan restoran padang sederhana yang ada di Jakarta.

Setelah itu, kami langsung menuju rumah yang baru akan diresmikan penggunaannya pada malam harinya. Rumah yang merupakan Town House dengan luas tanah 220 m2 ini terletak di Jl. Moh. Besar Purwokerto Utara, tepatnya di depan SD Kuthasari 3, sekitar 300 m dari kolam renang Langen Tirto. Hawa sejuk langsung terasa. Air yang mengalir di selokan samping rumah juga sangat jernih, sama seperti air pegunungan yang diangkut dengan mobil tangki untuk air isi ulang di Jakarta.

Maka kolam renang langen tirto tidak pernah kehabisan air, karena airnya berasal dari curahan yang mengalir mungkin dari Gunung Slamet. Beda dengan kolam renang salah satu teman di Paguyuban Jateng yang ada di kawasan Pondok Indah. Kolam renangnya terpaksa diisi dengan air mineral isi ulang (mobil tanki air pegunungan) karena tidak mendapatkan air yang jernih di Jakarta ini. Terpaksa harus membeli air beberapa tanki dari kawasan bogor.

Malam harinya, acara peresmian, atau tepatnya selamatan menempati rumah baru. Tahlilan dipimpin oleh Kyai setempat dan diikuti oleh para tetangga dan juga para kuli bangunan yang masih menyelesaikan proyek Town House yang ada. Hadir juga Bapak Dullah dan istri (Kamaba senior yang sekarang sudah menetap di Pwt), juga Bapak Kolonel (Purn) Kusmandar, anggota Kamaba Senior yang juga mantan anggota DPRD DKI dan sempat akan mencalonkan diri menjadi Bupati Banyumas tapi urung dilakukan. Sekarang juga menetap di Purwokerto, walaupun masih ada rumah juga di Jakarta.
Rupanya memang ada trend di kalangan orang Banyumasan yang lebih senang kembali ke kota asalnya ini ketika memasuki masa pensiun. Tidak mengherankan bila ada yang menyebut Purwokerto sebagai kota pensiunan.

Kamis paginya kami ke tempat saudara yang baru saja kesripahan ditinggal ibunya, di sekitar pasar wage, kemudian ke rawalo ke rumah kakak, Mamak, dan keponakanku yang di Margasana.
Selanjutnya setiap pagi molai hari Jum’at, anaku ketagihan untuk berenang di kolam renang Langen Tirto. Jum’at, Sabtu, dan Minggu. Pagi-pagi, sekalian mandi pagi lah,,,
Aku ya mau ngga mau mesthi ikut nemanin anaku.

Hari Jumat sore menuju lokasi wisata Baturraden. Sempat makan sate ayam, mendoan, dan minum susu sapi segar yang hangat di pinggiran air terjun. Ada juga yang makan pecel dan jagung baker. Semua makanan enak-enak, dan harganya relatif murah. Apalagi mendoannya wah,,,kayanya nggak ada duanya deh. Gurih, mirasa, dan tentu saja hangat. Lebih pas lagi karena minumnya susu murni yang segar dan hangat.

Selanjutnya makanan lain yang sempat dicobain adalah keong yang berkuah di Jl.Kauman Lama Purwokerto, tepat di depan kantor PCNU Purwokerto. Tidak ketinggalan Soto Jasim Jatilawang, dan yang baru adalah Sroto Bu Rasmudi di Jl.Sela Kambang Purbalingga. Tepatnya di depan tugu, di seberang Kodim Purbalingga. Srotonya benar-benar segar, sehingga habis sampai tetes terakhir (kaya semboyan es teller 77 aja) Dagingnya banyak, ukuran mangkoknya jumbo, wuih,,,menggeh-menggeh, ora wani nambah mbok kewaregen.

Selain itu ada pecel yang memang enak. Rebusannya benar-benar lunak sehingga nggak ada sayuran yang ngganjel di lidah. Bumbunya ngga pedas tapi buket dan manis. Pecel kayanya ada di mana-mana. Di samping di lokawisata Baturaden, saya juga beli yang di halaman kolam renang Langen Tirto dan juga kali lain yang di seberang jalan di depan kolam renang. Semuanya enak dengan harga sangat terjangkau.

Minggu pagi sekitar jam 10.00 wib kami meninggalkan Kuthasari menuju Jakarta. Sampai di Jakarta sekitar pukul 21.30 Wib. Untuk sementara, rumah Kuthasari ditungguin orang. Rumah itu akan digunakan jika kami kembali ke Purwokerto.

Sunday, June 22, 2008

Silaturrahmi Paguyuban Jateng Berlangsung Meriah

Meskipun hujan deras di hampir seluruh Jakarta pada hari Sabtu (14/6) kemarin, dan masih tetap rintik-rintik sampai sesudah adzan maghrib, namun tidak menyurutkan para penggemar wayang untuk berduyun-duyun mendatangi tempat acara di halaman RRI Jakarta, semalam. Sekitar seribu orang memadati area pertunjukan. Seluruh kursi yang disediakan panitia berjumlah 600 kursi penuh. Selebihnya duduk-duduk lesehan di sisi kiri (teras Gedung RRI Jakarta), sebagiannya lagi berdiri di belakang kursi-kursi tamu dan di luar pagar di pinggir Jl. Merdeka Barat.

Nampak hadir Pembina Paguyuban Jateng, Jenderal (Purn) Wiranto, Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Mantan Kapuspen Kejagung R. J. Soehandoyo, Mantan Ketua Umum Paguyuban Jateng yang Juga mantan Wagub DKI Jakarta H.RS Museno, Pengurus Paguyuban Jawa Tengah, Pengurus Paguyuban Kota/Kabupaten se Jateng, dan masyarakat asal Jateng di Jabodetabek. Sementara Para kandidat Cagub dan Cawagub Jateng, termasuk Letjen TNI (Purn) Bibit Waluyo tidak bisa hadir karena kesibukannya di Jawa Tengah. Namun beberapa diantaranya mengirimkan tim suksesnya.

Acara disiarkan langsung oleh RRI Jakarta pada pukul 20.30 Wib. Diawali dengan panembromo oleh Ibu-Ibu dari Paguyuban Jateng, laporan ketua panitia oleh Kolonel (Purn) Sutjipto, SH, sambutan dari Direktur RRI Jakarta (diwakilkan), sambutan Ketua Umum Paguyuban Jateng Letjen (Purn) Bibit Waluyo yang diwakili oleh Koordinator Para Ketua, Sutrisman, dan sambutan Pambina oleh Letjen TNI (purn) Wiranto. Penyerahan wayang lakon Wisanggeni dilakukan oleh Letjen (Purn) Sutiyoso. Ditutup dengan doa oleh Ketua MUI Bekasi yang asli mBanyumas (Jenengane kelalen lah)

Dalam sambutannya, Wiranto menyinggung tentang perjuangan bangsa Indonesia di masa penjajahan. Sampai pada akhirnya lahir organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908 yang membangkitkan kesadaran kepada rakyat Indonesia untuk berjuang melalui meja perundingan atau secara politik. Dia menyontohkan bagaimana Tiga Serangkai dr. Soetomo. Dr. Wahidin Sudirohusodo, dan dr. Cipto Mangunkusumo yang telah berhasil membangkitkan kesadaran pemuda/bangsa Indonesia untuk berjuang melawan penjajah bukan hanya dengan perjuangan fisik, tapi juga di meja perundingan. Pada saat itu, kata Wiranto apabila semua orang Indonesia bersama-sama idu/meludah, maka penjajah akan tenggelam. Ini tentu bukan dalam arti yang sebenarnya. Ini bermakna apabila seluruh rakyat bahu membahu bergotong royong berjuang melawan penjajah, maka akhirnya kemenangan akan diperoleh. Dan ternyata memang demikian adanya.

Secara umum penampilan Ki Purbo Asmoro memang bagus, apalagi ditambah dengan bintang tamu sinden bule Kessy dan sepasang sinden asal mBanyumas yang gokil dan kocak yaitu Nyi Wainten dan Nyi Yani. Maka pertunjukanpun penuh dengan gelak tawa.
Ditambah dengan tampilnya Wiranto yang diajak ke panggung oleh Ki Dalang. Tidak menyangka, Wiranto ternyata sangat piawai nembang lagu-lagu jawa yang langsung diiringi dengan gending oleh pradangga dari RRI Jakarta. Bahkan ketika diberikan kesempatan yang ke dua kalinya oleh Ki Dalang, disambut dengan memberikan petuah/pesan kepada para Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah yang akan berlaga pada 22 Juni 2008, siapapun yang jadi/menang, maka Wiranto berpesan bahwa jabatan itu adalah amanah dan anugerah dari Allah SWT. Oleh karena itu, janganlah jabatan dijadikan sarana untuk mencari kesenangan pribadi ataupun golongannya. Kemudian Wiranto-pun nembang yang berisi pesan dari Pangeran Sambernyowo (Amangkurat) kepada para cagub dan cawagub Jateng. Acara disiarkan langsung oleh RRI ke seluruh Indonesia, sehingga mudah-mudahan sampai ke telinga para Cagub dan Cawagub.

Sebagai penitia, aku tentu menyambut kehadiran para tamu undangan, termasuk Bapak Wiranto dan Bapak Sutiyoso. Juga sempat berbincang dengan Bapak Suhandoyo, mantan Kapuspenkum Kejagung yang wajahnya sering kelihatan di televisi itu. Kebetulan beliau datangnya agak telat, sehingga luput dari perhatian panitia yang lain. Akupun menyambutnya dan mengajak ngobrol dan mempersilahkan beliau untuk duduk di barisan depan.
Hampir semua makanan yang dijajakan di tenda yang disediakan panitia aku cicipi. Bersama-sama dengan panitia yang lain, dan juga Kang Eko Bawor dan Kang Kuswandi Bakmi Margonda. Diantaranya mendoan, wedang jahe, soto Gombong, dan Nasi bebek kremes yang uenak tenan. Seperti biasa, sekitar jam 02.00 akupun bersama dengan Kang Eko Bawor dan Kang Kuswandi Bakmi Margondapun pamitan dan meninggalkan tempat acara yang masih penuh dengan penonton.

Tuesday, June 10, 2008

Legenda Candi Dieng

Alkisah, sebuah pengembaraan Candra Gupta Sandipala beserta Brahmana dan pengikut-pengikutnya di Wilayah Banjarnegara. Sampailah mereka di sebuah lereng yang bernama Dieng. Mereka disambut baik oleh Akuwu/Tetua dan masyarakat setempat.

Hubungan baikpun terjalin semakin erat karena persamaan visi dan misi dalam penyebaran agama Hindu. Eratnya hubungan ini ditandai oleh pernikahan Candra Gupta Sandipala dengan Maha Tantri Nurisia, putri dari Akuwu/Tetua Lereng Dieng

Kerjasana dan kebersamaan menguatkan perkembangan sosial ekonomi, politik, dan budaya pada waktu itu, hingga tercetuslah satu ide untuk mewujudkan satu tempat sebagai sarana peribadatan agama Hindu yaitu Candi.

Setelah merencanakan tanpa melupakan tiga unsur penting seperti air, api, dan udara, mereka lalu mulai menebang hutan/babat alas.

Berbagai rintangan dihadapi. Gangguan makhluk jin maupun gangguan fisik yang lain silih berganti. Hingga pada akhirnya berdirilah Candi Dieng nan megah, perkasa, elok nan indah bak nirwana.

Itulah Drama Tari yang dipentaskan di area "Ojo Dumeh" di Anjungan Jawa Tengah TMII semalam (7/6). Hadir Gubernur Jawa Tengah Ali Mifidz, Bupati Banjarnegara Djasri, Duta Besar Negara sahabat, Ketua Umum Serulingmas Pusat Dr.Ir.Yuwono Kolopaking, Mantan Ketua Umum Paguyuban Jateng HRS Museno, Pengurus Paguyuban Jawa Tengah, dan masyarakat Banjarnegara di Jakarta dan sekitarnya.

Menurut undangan yang "Banyumascyber " terima, para tamu undangan dimohon hadir 15 menit sebelum pukul 19.00 Wib. "Banyumascyber " sendiri hadir sekitar pukul 19.15 Wib. Disambut beberapa panitia yang menggunakan seragam batik Menjangan khas Banjarnegara, mengisi buku tamu, dan menerima souvenir yang ditempatkan di tas bergambar Pesona Wisata Kabupaten Banjarnegara atas nama Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara. Tas dari kertas bergambar Bupati Banjar sedang naik perahu karet Arung Jeram di Sungai Serayu dan Taman Rekreasi Margasatwa Serulingmas dengan warna dasar merah dan hitam ini nampak indah.

Tas sauvenir diantaranya berisi teko teh poci kecil dengan satu gelas yang terbuat dari tanah liat hasil kerajinan Klampok, Satu botol besar Sirup Salak "Azizah" dari kecamatan Madukara, Lempok/Jenang dari Salak Banjar, Gula Aren, makanan kecil dan peta pariwisata Banjar dengan judul Discover The Enchanting Tourism of Banjarnegara.

Begitu masuk ke area Anjungan Jawa Tengah, undangan langsung dibelokan oleh panitia yang jumlahnya sangat banyak itu ke tempat makan malam di sebelah kiri depan Anjungan. Makanan yang disajikan diantaranya Sate ayam Banjar, Soto Banjar, dan Dawet Ayu Banjarnegara. Ada juga prasmanan dengan menu utama ayam goreng bumbu asem manis, sop daging dan tetelan sapi, dan makanan penutup berupa aneka buah dan puding. Setelah itu, undangan di arahkan untuk memasuki area "Ojo Dumeh" yaitu sebuah arena di depan sebelah kanan pendopo Anjungan Jawa Tengah yang di dinding belakang panggung pertunjukannya terdapat tulisan jawa "Ojo Dumeh". Kursi tamu di depan dan dibelakangnya yang berupa bangku beton berundak-undak nampak penuh. Baik di depan panggung maupun di sisi kanan panggung. Jumlah pengunjung diperkirakan 750 orang.

Sementara di pendopo anjungan juga terdapat kursi-kursi yang mengelilingi meja bulat berbalut kain berwarna putih dikelilingi oleh AC outdoor yang cukup besar di setiap pojok tempat para tamu undangan VIP makan. Berbagai macam makanan nampak berderet di sekililing pendopo anjungan.

Jalannya Acara

Acara diawali dengan penampilan tari Gambyong Banyumasan yang dibawakan oleh 9 gadis berparas manis memakai kemben dengan kain batik dan selendang berwarna kuning serta rok di dalam balutan kain yang berwarna senada. Diiringi dengan gending dan nyanyian waranggana yang ada di sebelah kanan undangan. Lampu sorot warna warni nampak menambah indahnya suasan panggung dengan latar belakang tanaman-tanaman berwarna hijau..

Kemudian sambutan Bupati Banjarnegara Djasri. Dalam sambutannya, Bupati yang perawakannya tinggi besar ini mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Jateng Ali Mufidz yang telah menunjuk Kabupaten Banjarnegara mewakili Propinsi Jateng menampilkan potensi wilayahnya di Jakarta. Djasri juga mengenalkan beberapa pariwisata Banjarnegara seperti Candi Dieng, Arung Jeram, Sumur Jalatunda, Telaga Balekambang, Air Terjun Sirawe, Curug Pitu, dan lain-lainnya. Djasri juga membanggakan warganya yang berhasil memperoleh kejuaraan di tingkat dunia seperti pencak silat dan tinju. " Cris John, jago pukul di ring itu juga dari Banjar lho" begitu promosinya. Spontan disambut tepuk tangan para hadirin.

Dilanjutkan dengan sambutan Gubernur Jawa Tengah Ali Mufidz. Dalam sambutannya Gubernur Jawa Tengah yang sebentar lagi meninggalkan jabatannya itu mengucapkan terima kasih kepada Bupati Banjar dan Pemda Banjar yang telah menampilkan potensi Kabupaten Banjar/Jateng dengan sangat baik.

Setelah itu, ditampilkan tari Aplang yang dibawakan oleh penari pria dan wanita yang memakai sandal bakyak dari kayu. Diiringi genjringan dengan bas kendang disertai nyanyian puji-pujian terhadap kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Setelah itu adalah penampilan dramatari "legenda Candi Dieng" dan penyerahan Cinderamata kepada para Duta Besar oleh Gubernur Jawa Tengah. Juga penyerahan Cinderamata kepada General Manager Taman Mini Indonesia Indah. Acara berakhir sekitar pukul 21.30 Wib. Polantas pun sibuk mengatur lalu lintas yang macet di sekitar lampu merah TMII. Beberapa mobil nampak berplat nomor H (Semarang) dan RD (Banjarnegara) keluar dari TMII.

Monday, December 24, 2007

Idul Adha 1428 H

Allaahuakbar Allaahuakbar Allaahuakbar. Laaailaahaillallaahu Allaahu Akbar. Alloohuakbar walillaahilham,,,

Begitulah, Lebaran Idul Adha tahun 2007 ini aku ikut Sholat Ied di Masjid lingkungan tempat tinggalku di daerah Kemayoran, yaitu Masjid Ass Syura. Ini asli Masjid yang masih memegang tradisi lama,ya,,,Masjidnya orang NU. Tahun-tahun sebelumnya aku Shalat Idul Adha di Masjid dekat rumah mertuaku di kawasan Plumpang. Yaitu Masjid As Sholihin. Yang ini Masjidnya aliran lain, yang imamnya baca suratnya puanjang puanjang sampai berdirinya cengklungen,,,,

Penyembelihan hewan Qurban di sekolahanku dulaksanakan pada hari Sabtu, aku jadi MC dan bagian pemanggilan. Sebelum dhuhur, urusan beres. Semua kebagian daging sapi kurang lebih 2 kg.Lumayan buat dimasak di rumah. Kalau dikasihnya daging kambing, bisa-bisa aku gak ikut makan. Soalnya lagi ngindarin makan daging kambing. Supaya asam uratnya terkendali.

Thursday, September 27, 2007

Buka Puasa Serulingmas Pusat

Buka Puasa Serulingmas Pusat

Buka Puasa dan kangen-kangenan Serulingmas (Seruan Eling Banyumas) Pusat berlangsung di sebuah rumah milik pengusaha asal Banyumas Wisnu Suhardono di Jl.Jenggala II Kebayoran Baru semalam.

Nampak Hadir Ketua Umum Serulingmas Pusat Dr.Yuwono Kolopaking, Mantan Menkop Subiako Tjakrawerdaya, Pesinetron Pangky Soewito dan istrinya Bintang Film era 70 an Yaty Oktavia, Mantan Kapolda Jatim Irjen Pol (Purn) Wik Jatmika, para pengurus Serulingmas Pusat, Pengurus KKB, serta perwakilan dari Komunetmas yaitu Fahmi Nahdi, Eko Carub Bawor, dan tentu saya sendiri.

Bertindak selaku penceramah dengan tema Pulang Kampung Untuk Mengentaskan Kemiskinan Prof Dr. Haryono Suyono, mantan Menko Kesra dan Kepala BKKBN Pusat.
Dalam ceramahnya yang diselingi dengan humor-humor segar, Haryono Suyono mengajak kepada Warga Banyumasan yang ada di perantauan untuk peduli terhadap tanah kelahirannya dan berusaha untuk meningkatkan taraf hidup/mengentaskan kemiskinan warga Banyumasan. Contoh yang dikemukakan adalah dengan membentuk pos-pos semacam Posyandu yang berisi orang-orang yang bisa menggerakan masyarakat supaya bisa meningkat ekonominya. Misalnya dengan cara menyertifikatkan tanahnya untuk kemudian dijadikan agunan kredit ke Bank sehingga bisa berusaha atau berwiraswasta. Misalnya orang yang jualan ayam dengan modal terbatas akan lebih bagus lagi kalau modalnya ditambah sehingga ayam yang dijualnya tambah banyak dan bisa menjadi juragan ayam. Begitulah kira-kira konsepnya Pak Haryono Suyono ini.

Setelah selesai Shalat Maghrib, penulis dan beberapa pengurus KKB meluncur ke Jl.Anggrek II Depok ,melayat salah satu aktivis Banyumasan yang berprofesi sebagai wartawan yaitu Bapak Yatim Kelana. Ina lillahi wa ina ilaihi raji’un. Semoga arwahnya dierima di sisi Allah SWT. Dan keluarganya diberikan kesabaran.

Tuesday, September 18, 2007

Buka Puasa Di Rumah Pak Bibit Waluyo

Tepat jam 16.45 aku nyampe di Rumah Pak Bibit Waluyo di komplek Perwira Tinggi, Cijantung II. Meskipun rumahnya nampak baru, tapi nuansa kesederhanaan tetap ada di dalam rumah itu. Ya, sederhana untuk ukuran seorang TNI yang sudah berpangkat Letjen dan pernah menjabat sebagai Pangdam IV Diponegoro dan Pangdam Jaya serta Pangkostrad.

Pak Bibit yang baru saja terpilih menjadi Ketua Umum Paguyuban Jawa Tengah memang sangat bersahaja dan sederhana. Sikapnyapun baik sekali, tidak membeda-bedakan orang.
Ketika saya menjabat tangannya dan minta maaf karena waktu datang saya belum sempat menyalaminya, Beliau menjabat tangan saya erat sekali bahkan sampai tangan kirinya menepuk-nepuk punggung tangan saya. Ya benar-benar di luar dugaan saya. Betapa beliau adalah seorang Jendral, tapi sikapnya sangat bersahaja. Beliau sangat ramah dan berusaha dekat dengan semua tamunya yang hadir pada malam itu.

Buka puasa dengan menu catering yang lumayan enak, apalagi ada nasi Jawa yang terdiri dari nasi putih, sayur lodeh tempe dan tahu, daging goreng srundeng, dan daging sapi, serta rempeyek kacang dan urab, wah serasa makan di rumah sendiri di kampung.

Ada juga Siomay, catering lengkap, buah, kue-kue, minuman juice jambu, puding dan lain lain. Kelihatannya masih banyak makanan yang tersisa karena undangan yang dating “hanya” sekitar 30 orang.

Yang mengejutkan, setelah puas berbuka puasa, Pak Bibit berpidato yang intinya Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu tidak usah melanjutkan acara dengan Shalat Taraweh, silahkan shalat taraweh di rumah masing-masing. Karena mengingat suasana agak memanas sehubungan dengan pembentukan struktur kepengurusan oleh formatur. Kelihatannya ada kubu yang ingin memasukkan orang-orangnya sebanyak mungkin untuk jadi pengurus paguyuban.
Begito loh,,,,Inilah Indonesia sekarang. Baru pengurus Paguyuban saja rebutan. Bagaimana pengurus parta politik? Waaah,,,,kayanya seru banget kali ya,,,,

Tapi Pak Bibit memang bijaksana. Daripada shalat taraweh dengan perasaan yang ndongkol dan pikiran ngga karu-karuan di situ, mending semuanya disuruh pulang dan taraweh di rumah masing-masing. Tentara dilawan! Begitu kira-kira Pak Bibit ngebatin.

Wednesday, September 12, 2007

Bibit Waluyo Terpilih Menjadi Ketua Paguyuban Jawa Tengah

Mubes III Paguyuban Jawa Tengah Jabotabek yang dilaksanakan pada hari Minggu, 9 September 2007 di hotel Sahid Jakarta Pusat berlangsung sukses. Letjen TNI (Purn) Bibit Waluyo, mantan Pangdam Jaya dan Pangkostrad berhasil terpilih menjadi Ketua Umum Paguyuban sekaligus sebagai ketua formatur. Bibit bersaing ketat dengan Drs.H Sumaryoto, anggota DPR dari Fraksi PDIP yang berasal dari Wonogiri.

Dalam persaingan yang sangat ketat dan dihadiri oleh sekitar 200 peserta/utusan dari 27 pengurus paguyuban Kabupaten/kota se Jawa Tengah tersebut, Bibit mengumpulkan 13 suara, sementara Sumaryoto 12 suara dan 2 suara dinyatakan tidak sah. Dalam pemilihan Ketua formatur/ketua umum ini, one delegation one vote. Satu kabupaten, satu suara. Sebelum dilakukan pemilihan, dua kandidat menyampaikan visi/misi di depan peserta sidang. Pemilihan Ketua Umum dilaksanakan pada sidang Pleno ke III yang dilaksanakan pada sore hari dan dilanjutkan setelah istirahat untuk melaksanakan shalat Maghrib. Rencana Mubes hanya sampai pukul 17.00 WIB ternyata molor sampai sekitar pukul 20.30 WIB.

Setelah pemilihan Ketua Umum selesai, kedua kandidat baik yang menang maupun yang kalah, berjanji di hadapan peserta Mubes akan saling membantu dan bahu-membahu dalam mengurus organisasi. H. Sumaryoto ditempatkan sebagai Wakil Ketua Umum.
Pengurus Paguyuban secara lengkap akan disusun oleh ketua Umum/ketua formatur dibantu oleh 7 formatur lainnya yang mewakili Pembina, pengurus lama, dan utusan Karesidenan

Dibuka Sekda Jateng

Mubes III Paguyuban Jawa Tengah Jabodetabek ini dibuka dengan pemukulan gong oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Marjiono, SH mewakili Gubernur Jawa Tengah.
Pembukaan MUBES dihadiri juga oleh Ketua Dewan Pembina Paguyuban Jateng Sukamdani Sahid Gitosarjono dan para sesepuh/tokoh dari Jawa Tengah diantaranya Jendral TNI (Purn) Wiranto, Ibu Soeparjo Roestam, dan mantan Kapolri Jendral (Purn) Rusdiharjo.

Setelah pembukaan, dilanjutkan acara foto bersama antara para tokoh yang hadir dengan pengurus paguyuban dan panitia pelaksana Mubes. Setelah itu coffe break dan dilanjutkan dengan sidang pleno I yang berisi pengesahan tata tertib Sidang Pleno Mubes serta pemilihan ketua dan sekretaris sidang pleno, laporan pertanggung-jawaban pengurus PJT 2000-2007 oleh ketua umum, pandangan umum terhadap laporan pertanggung-jawaban PJT 2000-2007, serta pembentukan komisi-komisi yang meliputi Komisi Pertanggung Jawaban Pengurus periode 2000-2007, Program Kerja Umum Periode 2007-2012, AD/ART, serta komisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Organisasi (APBO).
Pukul 13.00 istirahat shalat dhuhur serta makan siang. Setelah itu dilanjutkan dengan sidang komisi-komisi di empat ruangan berbeda. Setelah selesai dilanjutkan dengan sidang Pleno ke II berupa laporan para ketua komisi, tanggapan hasil sidang-sidang komisi oleh peserta Mubes serta keputusan sidang pleno II untuk menerima/menolak laporan pertanggungjawaban pengurus paguyuban Jateng 2000-2007.

Ada Hiburan Juga

Meskipun pelaksanaan sidang sempat memanas dan diwarnai dengan perdebatan layaknya kongres partai politik, namun suasana tetap terkendali. Bahkan masih sempat diselingi dengan hiburan organ tunggal yang dipimpin oleh Leles dari TVRI Pusat Jakarta. Beberapa peserta Mubes juga sempat menyumbangkan suara emasnya. Suasana Mubes juga sempat ger-geran dengan spontanitas banyolannya Iparto Gombong.

Di akhir acara, dilakukan serah terima jabatan ketua paguyuban dari Ketua Umum lama H.RS Museno kepada Bibit Waluyo dengan penandatanganan berita acara dan serah terima pataka berlogo Jawa Tengah yang dibawa oleh tiga bodygard dari Wonogiri, Banyumas, dan Purworejo.

Salah satu bodygard itu adalah saya sendiri. (he,,he,,he,,ngguyu dewek)

Tuesday, August 28, 2007

Mubes ke III Paguyuban Jawa Tengah

Mubes ke III Paguyuban Jawa Tengah di Jakarta akan dilaksanakan pada hari Minggu, 9 September 2007 di Hotel Sahid Jakarta. Demikian hasil rapat Panitia Pelaksana yang dihadiri oleh Ketua Umum Paguyuban Jawa Tengah Bapak H.RS Museno, SH di Restoran Handayani,Matraman, Jakarta Timur, semalam.

Bertindak selaku Ketua Panitia Pengarah (SC) adalah Dr.H.Yasir Alwi,MBA,MM (Purworejo) dan Ketua Panitia Pelaksana Ir. Bambang Purwohadi, Msi,MT (Tegal)
Sementara Dewan Penasehat Panitia adalah : Ibu Soepardjo Rustam (Banyumas), Bapak Letjen TNI (Purn) Bibit Waluyo (Klaten), Bapak Mayjen TNI (Purn) H. Sudiono (Magelang), Bapak Dr. Yuwono Kolopaking (Banjarnegara) dan Bapak Drs. H. Sumaryoto (Wonogiri). Rapat Panitia dihadiri oleh sekitar 40 orang.

Mubes ke III ini bertujuan untuk membahas AD/ART, Program Kerja, dan pemilihan Ketua Umum/Pengurus Masa Bakti 2007-20012. Mubes akan diikuti oleh utusan pengurus Paguyuban Jawa Tengah di Jakarta seperti Paguyuban Warga Wonogiri, Tegal, Banyumas, Purworejo, Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga, Kebumen, Rembang, Semarang, Magelang, Surakarta, Salatiga, Kendal, Boyolali, Sukoharjo, Klaten, Temanggung, Wonosobo, Yogyakarta, Pemalang dan lain-lain.

Hari ini (29/8) Pukul 14.30 WIB, 8 orang panitia akan bertemu dengan pemilik Hotel Sahid yang juga anggota kehormatan Paguyuban Jawa Tengah, Bapak Sukamdani Sahid Gitosarjono. Rencananya,Mubes juga akan mengundang beberapa artis yang berasal dari wilayah Jawa Tengah dan juga Gubernur Jawa Tengah/Mendagri Bapak Mardiyanto, serta Gubernur DKI Jakarta Bapak Sutiyoso.

Inyong dewek melu dadi panitia bagian acak-icik alias bagian umum.

Dua Dalang Banyumas Ramaikan HUT RI ke-62

Dalang perempuan siswi kelas X SMA Diponegoro 1 Rawamangun, Jakarta
Timur, Anik Diah Anggraini ikut meramaikan acara Pagelaran Wayang
Kulit dalam rangka memperingati HUT RI ke-62 dan syukuran
keberhasilan pelaksanaan PILKADA DKI Jakarta. Siswi kelahiran
Cilacap, 21 Agustus 1992 yang sebelumnya sekolah di TK Aisiyah 02
Cilacap, SD Muhammadiyah 08 Cilacap, dan SMP Negeri 05 Cilacap ini
mengawali acara Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk dengan dalang
utama Ki Manteb Sudarsono.

Setelah itu, seorang karyawan perguruan Diponegoro, Kuswan juga
menampilkan kebolehannya mendalang. Pria kelahiran Banyumas, 19 Juni
1966 ini adalah lulusan SD Sanggreman I dan SMP/SMA Diponegoro
Rawamangun.

Dalam kesempatan itu tampil juga seorang dalang WNI asal Australia
KRT Gaura Mancacaritadipura. Dalang bule ini membawakan lakon
pucukan dengan lakon Fragmen Rama Tambak. Setelah itu barulah tampil
dalang kondang H.Manteb Sudarsono dengan lakon Sesaji Raja Suya.

Acara yang diadakan oleh Perguruan Diponegoro yang beralamat di Jl.
Sunan Giri No.5 Rawamangun ini bertujuan untuk (1) Mencintai dan
bangga sebagai Warga Negara Indonesia yang memiliki kebudayaan yang
luhur, (2) Menyosialisasikan azas persatuan dan kesatuan NKRI, (3)
Pendidikan informal melalui pagelaran wayang mencakup pengenalan
budi pekerti luhur serta sifat-sifat buruk dalam kehidupan, (4)
Menjaga kebudayaan khususnya pewayangan, dimana wayang telah
dicanangkan sebagai hasil puncak budaya dunia oleh UNESCO
(masterpiece of intangible heritage), (5) Mempromosikan kebudayaan,
di mana terkandung kebijakan local (local wisdom) melalui lakon dan
alur cerita yang disajikan, (6) Transfer kebudayaan dari generasi
tua ke generasi muda; (7) Menggalang persatuan seluruh rakyat di
daerah sekitar Perguruan Diponegoro, sehingga timbul tanggung jawab
social pendidikan oleh sekolah terhadap masyarakat. Demikian
dikatakan ketua panitia Prof. Dr. H. Arief Rachman, MPd dalam
sambutannya.

Hadir pada kesempatan itu Wakil Gubernur DKI Jakarta yang juga
Gubernur terpilih dalam Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu,
Bapak H. Fauzi Bowo. Juga duta besar Negara sahabat. Acara yang
dihadiri sekitar 1000-an orang tersebut berlangsung sampai pukul
03.00 WIB sesuai dengan pesanan panitia kepada Ki Manteb.

Dua sinden asal Banyumas juga meramaikan pagelaran wayang Ki Manteb
ini, diantaranya adalah sinden Yani.

Demikian sekilas info yang dapat kami sampaikan, kebetulan Inyong
melu nonton nganti jam 03.00 esuk.

Tuesday, July 17, 2007

Ke Cipanas

Hari terakhir liburan kemarin, tepatnya hari Sabtu, tanggal 14 juli 2007 aku dan keluarga ke Cipanas. Aku, Istri, serta Naufal anakku. Acara ini adalah dalam rangka tour dari kantor istriku yang berada di daerah Mayestik. Asyik juga, tour bersama keluarga. Ini jarang-jarang aku lakukan,,,,

Perjalanan menggunakan Bus HIBBA UTAMA AC, cukup nyaman. Hanya saja supirnya agak kasar nyetirnya, sehingga pindah prosnelingnya sering nyentak-nyentak dan mendahului kendaraan lain dari bahu jalan tol. Acara pertama ke Taman Safari. Acara ke Taman Safari ini sudah beberapa kali aku lakukan, sehingga tidak ada lagi yang menarik bagi saya. Naufal juga sudah beberapa kali ikut tour ke Taman Safari, tapi kelihatannya senang juga dia ngliat hewan-hewan penghuni TSI yang berkeliaran.

Makan siang di sana dengan menu SFC yaitu Safari Fried Chiken. Lumayan enak juga.

Perjalanan kembali diteruskan dan sampailah di Hotel Sangga Buana Cipanas, yang informasinya adalah kepunyaan dari YDD, Yayasan Danar Dana BNI, masih satu Group dengan tempat kerja istri.

Malem mingu diisi dengan makan malam yang diiringi dengan organ tunggal dengan 2 penyanyi wanita. Juga diselingi pembagian door prize yang dibagikan ke seluruh karyawan. Seperti biasa aku ikut juga larut dalam kegembiraan dan ikut berjoget ketika lagu dangdut dinyanyikan oleh salah seorang peserta tour. Wah asyik lah rasanya.

Kalau di lingkungan rumah, atau di tempat-tempat umum kayanya joget di arena dangdut kayanya nggak mungkin aku lakukan, soalnya ya,,,,malu lah yaw,,,,
Joged aku lakukan sebagai partisipasi dalam sebuah acara dan tentu dalam kalangan tertentu,,,,,gitu lho.

Siangnya dilaksanakan berbagai lomba. Ada lomba merias laki-laki oleh pasangannya, lomba bakiak, dan pertunjukan badut dan sulap oleh Papacong. Untuk lomba ngrias, aku dan istri termasuk ikut di dalamnya. Dengan mata ditutup, istriku merias aku sekenanya,,,,,ya udah lipstik mleber ke mana-mana. Jadinya suasana lucu banget penuh dengan gelak tawa. Apalagi peserta yang lain pada lucu-lucu banget. Dengan dandanan layaknya perepuan, kami laki-laki disuruh berjalan seperti peragawati di depan tim juri. Malu juga sih,,,,,,tapi gimana lagi,,,demi partisipasi. Iya nggak?

Pulangnya, waduh, jalanan macet banget. Sehingga keluar dari hotel jam 1 siang, baru sampai di kantor jam 6 sore,,,,,,,tapi seneng dan puas.

Tuesday, June 19, 2007

Ke Jogya Lagi

Sudah beberapa kali aku ke Jogya, tapi kayaknya nggak ada bosennya. Apalagi kalau jalannya ke sana ngga pakai bayar alias gratisan. Memang sih, banyak tanggung jawab yang harus dipikul, karena perginya ke sana tidak semata-mata untuk jalan-jalan, tapi juga njaga anak-anak yang sudah mulai ABG itu agar selamat sampai kembali ke Jakarta.

Tapi ya, anak SMP kan sudah cukup gede, mereka sudah bisa menjaga dirinya sendiri. Sehingga relatif gampang. Daripada kalau anak SD yang harus diawasi terus menerus 24 jam, atau anak SMA yang juga harus diawasi terus menerus karena mereka sudah remaja menjelang dewasa. Gawat kalau mereka dilepas begitu saja tanpa pengawasan guru.

Yah begitulah. Kayaknya anak SMP lebih enak dan pas. Nggak terlalu mengkhawatirkan.

Perjalanan ke Jogya selama tiga hari dan dua malam nginep di hotel memang lumayan menguras tenaga. Tapi ya ada senangnya juga karena ikut melihat tempat-tempat wisata yang selama ini belum pernah dikunjungi ketika ke Jogya, misalnya Pantai Krakal dan Candi Ratu Boko. Sedangkan obyek-obyek wisata yang lainnya sudah pernah seperti Candi Borobudur, dan Keraton Ngayogyagarta Hadiningrat. Ketep pass juga merupkan Obyek wisata di Jogya yang baru aku kunjungi.

Setelah puas belanja oleh-oleh di Bakpia Pathuk 25, Kemudian di Toko Batik dan Kerajinan Mirota di Jl. Malioboro, maka hari terakhir perjalanan adalah ke Keraton Yogya, ke Dagadu asli, dan ke ketep pass.

Setelah itu bus langsung meluncur pulang ke Jakarta lewat semarang dan pantura.
Perjalanan semalaman membuat mata ini ngantuk teruus,,,,sampai di Kampus Avicenna tepat jam 09.00 pagi hari Sabtu,,,,,

Wuih,,,cape,,,tapi ya senenglah,,,

Wednesday, June 06, 2007

Setahun Berlalu

Tak terasa, setahun sudah berlalu. Lama nggak mbuka blog, apalagi meng up date. Yaah begitulah. Sampai-sampai hari ini mau meng update lupa username dan passwordnya. Kebiasaanku yang jelek memang kadang menyusahkan diriku sendiri. Nggak punya catatan yang baik dan tertata.

Ya moga-moga mulai hari ini aku akan usahakan punya catatan yang baik dan tertata rapi. Moga-moga.